Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata. “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.” Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu. Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...
Sang senator tengah melantunkan pidatonya.
Sanggahannya seperti mutlak.
Sulit ditembus panah api meski apinya membara.
Segala berjalan sesuai rencana yang layak.
Musuhnya itu meliuk-liuk pidato seperti dedemit dimarahi raja hantu saja.
Tak membuang tempo.
Segera dia keluarkan segenap daya suara yang dimiliki secara habis-habisan untuk mengakhirinya.
Meski terkadang teknik ini dianggap kuno.
Tapi aku tak tahan di kandang mendidih berbau busuk ini.
Mata anak kecil berkaca-kaca, melihat senator berjual-beli serangan.
Mereka sedang memunggungi.
Suara mereka mengisi ruangan.
Mereka mencatat itu dalam bukunya.
Debat yang menohok itu sangat membuat aku tidak nyaman.
Karena aku itu tak mengerti pidatonya.
Pernyataan anak berumur 5 tahun.
Komentar
Posting Komentar