Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Puisi Ekspresionis: Jam Pagi

Kami bertemu. Menjadi kekuatan besar di sebuah wilayah. Aku ingin bertemu adikku. Berkurang-kurangnya wajah. Sebuah pesan dari jalur aman. Siapa yang tahu. Sambil merendahkan. Jaga sikap dan perilaku. Wajah sangar memberitahu. Terdapat banyak mata yang berlatih. Masuk ke markas keluar tidak ada biru. Tak cukup rimbun lampu putih.

Puisi Ekspresionis: Mendengar

Seandainya aku menjadi hidup lagi. Menjaring manusia supaya tak sampai keluar sasaran. Jalan-jalan sunyi menjadi sepi. Sentuhan pada pertolongan. Pintu besar itu belum terbuka. Meringkuk di neraka sepanjang hari sambil bermimpi indah. Pertarungan pertama. Masih dikenakan tahanan rumah. Supaya dapat jatuh ke tangan. Berlari sepanjang dunia sembari berteriak. Menyingkirkan. Orang yang congkak.

Puisi Ekspresionis: Kembalinya Si Bulan

Melihat sekeliling dengan tercengang. Memeriksa jam tangan. Bersenang-senang. Ia menunjukkan. Selalu keras tapi tak pernah kejam. Hawa aneh berputar di kepala. Jika ia menghantam ombak. Ke bumi berupa bayang-bayang cahaya. Purnama pertama. Seketika menakjubkan. Tolong, jangan bicara. Biarkan bulan ini menjadi mematikan.

Puisi Ekspresionis: Aku Terjebak

Hutan angker tak lagi membuatnya gentar. Terhampar tebal di dasar hutan. Melihat ketegangan di sekitar. Semakin berat penebusan. Pedang itu merobek topi. Tanpa perlu bertanya. Ciri-ciri musuh sejati. Ucapan terakhirnya sebelum mereka memenggal kepala. Sangat banyak aksi. Kalau angka-angka ini akurat. Kemampuan untuk menghindarkan diri. Ketenangan yang tepat.

Puisi Ekspresionis: Hari Waktu

Karena dicekam perasaan ngeri. Aku melarikan diri ke segala penjuru. Harus menyaksikan semua ini. Dengan jantung yang berpacu. Tetapi apa yang disayangkan? Aku merasa sangat dikhianati. Hari demi hari penghukuman. Pergi kembali. Harimau tidak mengurangi kecepatan. Malam semakin larut. Dia mengenal makna mati dan kematian. Apa nyalimu ciut.

Puisi Politik: Sandiwara

Matamu boleh saja buta. Di wilayah yang lebih dekat. Dulu mereka memang berkuasa. Yang dilakukan sekarang hanya menggeliat. Lalu mengapa orang-orang merendahkan suara saat berbicara tentang penguasa. Hati-hati dikurung. Semut mengejek singa. Benar-benar makhluk dalam tempurung.

Puisi Cinta: Biliar Tiga Bola

Kain basah. Mengalami perasaan. Jadi kekuatan berubah. Mendukung tanpa membedakan. Bergerombol di atas rumah. Menekankan perbedaan ukuran. Terlanjur bersemu merah. Dibungkus dengan pemahaman. Biliar tiga bola. Perubahan besar. Mengalami keberadaan yang kaya. Aktif menyatakan di dunia sekitar.

Puisi Cinta: Pengumpat

Dimana pun. Aku mencintaimu. Kapan pun. Memerlukanmu. Menguasai tempat-tempat yang tinggi. Menuntut ilmu. Hari demi hari. Untuk mendapatkanmu. Loncat mendekap mulut. Muncul kembali. Secara perlahan surut. Hal tidak bisa dipahami.