Langsung ke konten utama

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia



Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia. 

Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges. 

Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention. 

Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology.

Source: 

https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition

https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digital-impact-competition-2026



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Politik: Amuk

Salah satu tukang rakyat akhirnya menekan tombol elektronik. Memberikan benda curian itu begitu mudahnya. Detik-detik yang kronik. Bukankah mereka sudah siap dengan rencana? Persis saat mereka berhasil melintasi pintu baja. Loloskan itu! Biarkan itu lolos dengan mudah! Tapi masih ada penjaga yang berjaga-jaga. Amuk! Hanya bersih-bersih dan tinggalkan dengan marah. Bagus. Itu berarti mereka bisa masuk dan pergi. Ada banyak orang hebat dari suku bangsa. Tidak sekalipun dalam imajinasi. Itu bukan uang kecil atau satu-satunya.

Jarang Bicara, Apakah Tanda Kurang Cerdas?

Jarang berbicara sering kali dianggap sebagai tanda kurangnya kecerdasan, tetapi anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Otak manusia memiliki area yang berhubungan dengan bahasa, seperti area Broca yang bertanggung jawab atas produksi bahasa dan area Wernicke yang mengatur pemahaman bahasa. Ketika seseorang jarang berbicara, area ini mungkin menjadi kurang aktif, tetapi hal itu tidak berarti otak kehilangan fungsinya atau kecerdasan seseorang menurun.  Dalam sejarah, banyak tokoh besar seperti Isaac Newton, Albert Einstein, dan Nikola Tesla dikenal sebagai pribadi yang pendiam. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, merenung, dan menulis daripada berbicara. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang berbicara. Baca juga: Menaksir Usia Bumi dan Pembentukan Alam Semesta: Berapa Usia Bumi yang Tepat? Jarang berbicara tidak sama dengan tidak mampu berbicara. Orang yang memilih untuk lebih banyak diam sering kali sedang memprose...

Puisi Cinta: Cinta Semua Cinta

Semua cinta. Pada intinya, tidak ada garis lurus di dunia. Semuanya memutarnya. Para pecinta boleh bicara tentang apa saja. Beberapa cinta berdatangan kemudian. Penggerak hati yang tak terduga-duga. Juga menyumbangkan potongan penting bagi teka-teki percintaan. Lalu, biaya pemecahan itu juga memberi masa. Seluruh percintaan seperti itu. Pasti mengira ada segunung cinta. Dari semua pemandu. Lalu menempuh perjalanan panjang ke sana. Sebelum cinta terbesar yang pernah ada. Sekaligus. Lebih ekstrem dengan tamparan nyata. Hari itu seharusnya aku menjadi penulis. Mengaku sebagai pengagum cinta.

The Autobiography of Alfino Hatta

Alfino Hatta. Aku dilahirkan di sebuah kota Depok yang indah, di bawah naungan rahmat-rahmat Tuhan semesta alam. Sejak kecil, Alfino sangat senang menulis hingga menciptakan beragam cerita pendek, novel, puisi, menulis artikel untuk majalah, dan kini sedang merambah dunia skenario film. Leonardo da Vinci kedua dalam hidupku, yang mengenalkanku pada diriku sendiri, memikirkan berbagai keilmuannya, adalah para guru dan teman-teman ini: teman terbaik, guru tanpa tanda jasa. Sang ibu dari waktu, penasihat segala.

Puisi Naratif: Batu Safir

Aku tertegun menatap wajah itu. Aku melihatnya. Pelan dan berulang. Meskipun sakit, aku tak keberatan jika sang kasih menikahi saudaraku di rumah orang tuaku. Dia bermaksud meminangnya untuk suatu posisi strategis di marketing. Bagiku, mereka adalah pasangan yang luar biasa. One and only. Namanya lekat di jiwa. Hubungan tidak berdusta. Tidak terlihat sekali. Aku diam sejenak. Hanya dia yang sedikit memiliki penjelasan. Ada murid dari kelas lain yang bilang kami berdua dipanggil guru BK. Sudah enam bulan. Dia mengeluarkan listrik. Penuh memikatku. Bahkan hewan pun terpana. Melihat keanggunan putri salju. Sejak aku mengenalnya: Anak menarik dari kelas sepuluh. Miss Fathi menuntunku duduk di sofa. Seiring waktu, aku mendengar dia telah menikah.

Kematian: Ya Udah, Santai Aja!

Mengapa banyak orang merasa takut terhadap kematian? Sederhananya, konsep mereka tentang kematian sering kali terbalik. Kematian seharusnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Ketika nafas terakhir kita keluar, tubuh ini hanyalah sebuah benda yang sudah tak berfungsi lagi—tak ada lagi gunanya. Mengenai roh atau jiwa, siapa yang dapat memastikan kemana mereka pergi setelahnya? Hingga saat ini, belum ada yang pernah kembali untuk menceritakan hal tersebut. Mungkin ketakutan ini timbul karena sejak kecil kita telah diperkenalkan dengan konsep surga dan neraka. Surga dan neraka merupakan konsep yang berfungsi sebagai pengingat agar kita menjalani hidup dengan benar. Tentu saja, hal ini penting. Namun, setelah kematian, apakah ada bukti nyata yang dapat menjelaskan ke mana roh atau jiwa kita pergi? Hingga saat ini, belum ada bukti yang jelas. Maka dari itu, apakah ketakutan akan kematian tersebut memang relevan? Bukankah pada akhirnya ketakutan tersebut bisa jadi tidak berarti? K...