Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata. “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.” Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu. Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...
Mungkin ada malaikat yang turun ke bumi.
Kami sama-sama terkejut.
Aku tak sadar diri.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara laut.
Kami menempuh tiga jam perjalanan dramatik.
Seorang duyung cantik tengah menari-nari.
Telinga bertindik.
Mendengar suaranya saja geli.
Di atas segala nya, dia tak ingin menjadi pria kembali.
Setelah yakin kemaluannya hilang dari rumah sakit.
Nama yang ia sendiri.
Terbunuh sedikit demi sedikit.
Komentar
Posting Komentar