Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata.
“Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.”
Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu.
Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil apapun itu. Ini membuatku pusing, aku sangat malas memikirkan hal yang tidak pernah terjadi, bukankah kini tahun kebangkitan? Dengan revolusi industri serta teknologi yang kian berlari. Hari demi hari, aku melihat banyak sekali barang-barang canggih. Mengalahkan semua yang di ceritakan nenek moyangku, ilmu pengobatan pun sudah sangat mumpuni. Tidak perlu lagi kami memohon berdoa pada arwah leluhur yang tinggal di sebuah pohon beringin nan besar untuk menyembuhkan penyakit.
Sering kali ada beberapa surat yang dikirim dari bank untuk ayahku. Tetapi ayahnya bukanlah orang biasa, ayahnya adalah seorang nahkoda kapal tanker minyak besar, dan selalu berpergian hampir sepanjang tahun. Selama beberapa minggu ketika dia berada di rumah, dia akan sibuk kesana kemari untuk membuat rumah itu nyaman bagi Aku dan Kakeknya. Mengenai Ibuku, dia tewas setelah pendudukan Belanda.
Pada saat itu, tentara dari Pasukan Belanda bergerak ke daerah yang belum ditaklukkan.
Mereka tidak pernah terlihat lagi.
Malu akan hal besar ini, ayahku, memerintahkan—memohon warga sekitar untuk memotong atau jangan pernah membicarakan soal Ibuku selamanya.
Aku ingat pembicaraanku dengan Sang Ibu, untuk terakhir kalinya, dia berkata bahwa dia tidak takut gelap. Karena di dalam hidup ada gelap dan terang, ada cahaya dan kegelapan, ada perempuan dan laki-laki. Penjajah baginya adalah angin tornado yang menyapu kawanan domba di kegelapan malam, penuh kelicikan, siasat, dan adu domba.
Sehari kemudian, begitu saja Ibu pergi, menghilang lepas. Beberapa warga mengatakan: Ibumu diculik! Ibumu diperkosa para bedebah itu! Ibumu membela pedagang yang ditindas penjajah, lalu penjajah itu menembak Ibumu!
Dan setelah pendudukan Belanda itu. Seluruh kota berpesta pora, atau mungkin seluruh Hindia Belanda. Menyaksikan itu, aku benar-benar marah. Rasa ingin membalas dendam, kebencian yang mendalam, kekelaman, telah mempengaruhi diriku sejak kepergian Sang Ibu.
Maka dari itu, ayahku, seorang nahkoda tanker minyak besar. Menyekolahkanku di sebuah sekolah milik pemerintah Hindia Belanda bernama Hindia Internasionale de School—disini tak kupergunakan nama sebenarnya.
Beberapa hari setelah itu, Sang Ayah mengantarkanku menggunakan dokar miliknya, iring-iringan hanya terdiri dua dokar (kretek), Ayahnya, Kakeknya, dan dua orang pembantunya, ia sendiri. Bawaanya beberapa pena dan lembar kertas, dan makanan yang diberikan sejak berabad Ayah di laut, berbagai macam ikan dan rumput laut.
Anak muda itu masuk ke dalam dengan memapah Ayah yang sakit perut karena terlalu banyak memakan sambal kemarin malam dan pergi ke hadapan pintu yang menganga dan pagar tembok yang rendah. Di gedung utama, membubung lantai setinggi pinggang, kemudian sebuah pendopo dengan tiga baris tiang putih. Aku tidak bisa memeluknya, barangkali Ayah juga tidak bisa. Jujur saja, jika disebut rumah sakit ini lebih layak disebut gedung mahkamah agung. Tiang-tiang itu lebih besar dari pelukan tangan manusia. Setiap baris terdiri atas enam tiang. Burung camar terlihat bermain-main di antara burung gagak (sepertinya begitu aku rasa). Dan gagak pada pohon-pohon beringin sana tak henti-hentinya berkicau menyeramkan.
Aku berjalan masuk sendirian, keluargaku melambai-lambai dari pintu masuk. Sebuah kelas yang terdengar ramai dengan bahasa Belanda samar-samar kudengar. Mungkin itu kelasku
Aku berjalan menghampiri.
Tanpa mengetuk pintu kamar kelas, aku masuk. “Permisi.”
Didapatinya aku melihat para siswa keluarga berada—bangsawan-bangsawan kaya dan para Londo bersekolah di sini. Aku melihat, para keluarga berada Banten menggunakan bedak tebal pada wajahnya sudah berguris-guris laksana mutiara bermata dua, putih di luar, hitam di dalam. Mereka ingin terlihat putih seperti para murid Netherlands dan cantik dengan riasan topi atau hollandse muts. Memakai pakaian glamour mewah pada masa-nya. Tidak ada yang dapat mengalahkan ego perempuan melainkan perempuan itu sendiri.
Ibuku sering berkata: kecantikan itu dari dalam, anakku, selama kamu berbuat baik. Para Dewa pasti akan membalasnya.
Disini aku mulai menyadari apa inti dari kehidupan ini.
Disini pula aku mengenal ‘Utami’, kekasih para dewa. Wajahnya bagai rembulan, rembulan pun tenggelam di wajahnya. Dia cantik, sangat cantik—bahkan kecantikannya alami. Pakaiannya sederhana, tidak terlalu mewah ataupun terlalu murah. Dia begitu sempurna, Kulitnya kuning langsat. Tubuhnya kecil ramping.
“Anak baru, kemarilah.” Suara tegas Ibu Guru membangunkanku.
Aku berjalan dekat dan menghampiri.
Guru itu berbicara dengan bahasa Belanda yang aku tidak tahu, tangan kirinya memegang secarik kertas, lalu meletakkannya kembali di meja.
“Dia adalah murid baru di sini, semoga kita semua bisa lebih akrab.” Guru itu melanjutkan.
“Baik, Bu Guru!” Para siswa menyahut.
“Silahkan kamu duduk di kursi kosong pojok kelas.” Ibu Guru menunjuk.
Keesokan harinya, saat hendak pergi ke pasar. Aku berjumpa kembali dengan Sang Kekasih Para Dewa, yaitu Utami. Di punggungnya dibebani bakul besar dalam gendongan selendang. Dia datangi rumah priayi, rupanya Utami adalah salah satu pembantu di keluarga ningrat Tionghoa. Dia kemari, karena mendapat rekomendasi dari kepala keluarga sebelumnya. Dia beli barang, bakul kosong, pakaian, rongsokan. Yang paling penuh kulihat adalah kayu cedar yang berharga. Sampai barangnya penuh. Lalu dia menjualnya kembali di pasar.
Aku diam-diam mengintipnya, hingga akhirnya tepukan Ayah mengangetkanku. Ayah menyadari aku sedang mengintip si Utami:
“Ahoi! Anakku yang paling bujang! Bulan mana pula yang sedang kau rindukan?”
Aku mendengus, kesal. Tetapi:
“Tidak ada Ayah, dia hanya teman sekolahku. Tidak ada hubungan lain. Mana ada!”
“Anakku Bujang! Buaya darat kita, jikalau ayah dapat membantumu. Alangkah senangnya ayah akan segera mendapatkan cucu.” Ia tertawa menyeringai.
Pada saat itu, pernikahan dini masih banyak dilakukan, beberapa masyarakat berkata: pernikahan ini untuk menjaga langsung tradisi turun-temurun dan kelangsungan keturunan!
Aku tidak pernah setuju akan pendapat itu, belum cukup umur, bahkan pekerjaan belum dapat pun diperkenankan menikah. Jika aku menjadi Gubernur Hindia Belanda, maka aku akan membuat peraturan tak tertulis tentang batasan usia pernikahan. Hingga akhirnya, angka kemiskinan di Hindia ini berkurang, rakyat pun makmur, kasus mengenai bayi yang dibuang kian menurun. Itu adalah sebuah negeri yang kuimpikan.
Aku beringas, kesal, “Ayah, aku belum cukup umur untuk menikah!”
“Oh, ayolah.”
Aku yang kesal, meninggalkan ayah yang termenung bahagia bersama dua pembantu di sampingnya dan satu algojo penjaga di belakangnya.
3 hari berlalu, masih melintas dipikiranku, bayang-bayang Sang Utami, yang aku sebut sebagai—kekasih para dewa itu selalu menghantuiku setiap hari.
Lalu keesokan harinya aku mulai masuk kelas.
“Ahoi! Teman! Kamu menyukai dia?” Temanku, Robert—disini tidak kupergunakan nama sebenarnya. Menggodaku, yang dia maksud adalah Utami. Didapatinya aku sedang mencoba memotret gambar Utami di pojok kelas.
Memang aku ingin dan berhak mengusirnya, tetapi:
“Sssttttt!” Aku mendesis. “Siapa tahu.”
“Oh! Benarkah! Tepat sekali tebakanku.” Ia menyeringai. “Aku ini tahu segalanya, kecuali diriku sendiri.”
Kemudian seperti biasa, dia lanjut mengoceh tidak jelas.
Biar aku perkenalkan: dia adalah Robert, dia temanku sekolah di Hindia Internasionale de School. Dia lebih tinggi dariku. Di dalam dirinya, mengalir darah Hispanic. Entah beberapa gumpal atau tetes.
“Mengapa kamu memilih dia, temanku ada banyak yang lebih cantik dari dia. Nanti bila ada kesempatan, akan kuperkenalkan padamu gadis-gadis Eropa nan cantik.” Ia merintih di telingaku.
“Cantik?”
“Cantik itu seperti apa? Mulut yang tebal sempurna, tulang yang kuat dan merekat, atau kulit yang eksotis. Atau mata yang berbinar-binar laksana mutiara. Aku tanya padamu, mana yang tidak ada di dalam dirinya. Dia memiliki semuanya, hatinya baik, pekerja keras pula, dan begitu rajin.” Aku balas rintihan.
Aku mendekat, lalu berbisik di telinganya. “Dia sangat sempurna di mataku.”
Dia terdiam sejenak, lalu tertawa cukup keras, membuat seisi kelas menatapnya dengan kebingungan. “Kamu hebat, teman.”
Lalu pergi meninggalkanku begitu saja, setelah ucapannya yang sedikit membuat hatiku merengkuh karena kesakitan. Belum genap 2 menit, Utami, kekasih para dewa menghampiriku. Aku dengan cepat berbalik, menghadap tembok, merapikan gaya rambutku yang semula acak-acakan.
“Bujang.”
“Ada apa, Utami?
“Aku melihatmu mengikutiku kemarin, atau saat itu, aku tidak ingat kapan. Apa ada yang ingin kamu sampaikan?” Matanya berbinar-binar melihatku.
“Tidak ada, Utami.”
“Lalu, kenapa kamu mengikutiku kemarin.”
“Itu... Aku pikir kamu sangat cantik.” Mulutku tidak sengaja mengeluarkan kata-kata yang tersimpan di hatiku selama ini.
Bola mataku membesar, aku takut dia marah. Atau malah menamparku, layaknya yang kulihat di pertunjukan teater drama-drama barat atau timur.
“Kamu lucu sekali.” Dia tertawa, terkendali.
Ini adalah kesempatanku! Dia tidak marah, Ibu pernah berkata: perempuan yang tak marah ketika digoda, itu berarti dia menyukai orang itu.
“Utami.” Aku berkata lembut. “Maukah kamu menemani makan malam bersama keluargaku malam ini di rumahku?”
Dia tersenyum, “Tentu saja, aku akan ikut, tidak ada yang boleh menolak ajakan, bukan?”
Malam itu sangat indah memang. Langit hitam dengan hiasan bintang-bintang di bingkainya, hidup muda hanya bernafaskan kesukaan semata. Segala yang kuusahakan kemarin berhasil. Tak ada kesulitan merayunya. Dan hati menjadi cerah tanpa komplex. Yang telah berlalu biarlah sudah, ucapan Robert sudah tidak kumasukkan hati lagi. Dan sekarang pertemuan resmi dengan Sang Kekasih Para Dewa! Dewi Kahyangan! Bidadari Surga! Malam ini tidak akan kubiarkan siapapun menggangguku, meski lalat sekalipun. Dengan harapan agar semuanya lancar, aku menadahkan tangan ke langit dan berdoa: Tuhan, lancarkanlah!
Delman dengan sepasang kuda putih yang kukemudikan menerobos gerbang halaman rumah. Dengkurannya meraung, belum cukup, aku menambahnya dengan mencambuk kuda berkali-kali dan berteriak, meninggalkan belasan warga yang memaki-maki karena mereka terpaksa loncat menghindar. Aku membanting kemudi, berbelok menaiki jembatan, lampu obor segera hilang di jalanan lengang.
Aku mulai memasuki hutan yang gelap, bermodalkan sebuah obor, aku menyisir daerah hutan menuju rumah Sang Kekasih, Utami.
Dia berkata, rumahnya dekat sebuah pedesaan di Pamulang. Orang-orang desa ke kota, berjalan kaki di malam hari. Tidak masuk dalam perhatianku. Jalan raya setapak itu lurus langsung menuju desa. Rumah, pepohonan rindang, sawah, pepohonan jalanan yang ditegakkan dengan bambu, salah satu upaya pemerintah Hindia Belanda dalam membangun swasembada pangan, bagian-bagian hutan yang bermandikan sinar perak bulan, semua burung melintas di atasku, bertebangan riang. Entah ini kabar baik atau buruk. Di kejauhan sana terlihat seperti gundukan gunung-gunung berdiri tenang dalam keangkuhan, seperti pertapa terbaring membatu.
“Aku sudah tidak sabar.”
Aku sesekali menatap foto Dewi Kahyangan, yang kuambil diam-diam saat dia menoleh kepada temannya dan tersenyum. Senyumnya yang manis, seperti kecap malika. Bahkan kecap malika pun kalah manis dengannya.
Dan dokar ini sudah lama tak berhenti, makin lama makin jauh meninggalkan perkotaan dan semakin dalam menuju pelosok desa. Lihat di kiri, sebuah rumah Tionghoa berpelataran luas dan terpelihara rapi dengan pagar hidup. Pintu dan jendela tertutup, catnya serba merah. Ini pasti dia!
Sesuai dengan yang dia deskripsikan saat itu: rumah Tionghoa, cat serba merah, pelataran luas. Ini adalah rumah dari tuan Sang Kekasih. Sebuah keluarga ningrat Tionghoa.
Aku mendekat gerbang yang lumayan tinggi itu, lalu menepuk-nepuk pintu kayu rumah dan memanggil: Utami!
“Hoi!” Itu suara Utami.
Aku terdiam sejenak, menyaksikan pakaian Tionghoa yang dikenakkan Utami (meskipun sebenarnya dia orang Jawa) dan geraian bertebangan oleh angin serta senyum manis Utami yang begitu sempurna. Rambutnya yang tergerai sempurna bertebangan oleh angin ribut malam menambah kesan yang manis malam ini.
“Jadi kita berangkat ke pesta?”
“Tidak, kataku tadi, kita kemari untuk apa?”
“Berangkat makan malam?”
“Tepat sasaran!” Dia tertawa manis.
Maka kembalilah mereka ke kota. Sejujurnya perjalanan kemari tidak sejauh yang kukira. Jika kita bersabar dengan keadaan.
Dokar pun sampai, membelok, melewati pintu gerbang, melewati papan nama keluargaku, langsung menuju tangga depan rumahku. Aku bergidik, melihat Ayah yang terlihat antusias dan penuh senyuman hangat lalu di sekelilingnya dipenuhi para pelayan yang berpakaian wangi rapi.
Aku memegang tangan Sang Kekasih, membantunya turun, dan tersenyum membalasnya.
Seorang pemuda Indo-Eropa menyambutku. Nampaknya ia seumur denganku. Ia berwajah Eropa, berkulit pribumi, jangkung, tinggi, tegap, dan kukuh.
“Silahkan kemari, Tuan dan Nyonya.” Tangannya mempersilahkan, sangat sopan dan berwibawa.
Aku membalas tersenyum, merangkul Sang Kekasih yang juga tersenyum. Aku berbisik pada Ayah: siapa dia? Ayah menjawab, dia adalah koki terkenal yang di sewa untuk pertunjukan makan malam ini.
“Senang berkenalan denganmu; mari masuk.” Ayah berbicara dengan Utami menggunakan aksen Belanda yang terkadang itu membuat lidahnya sedikit sakit. Sepertinya Ayah sudah memperhitungkan segalanya.
Kami menaiki jenjang. Lalu duduk di sebuah meja panjang perak dan kursi kayu dengan bantalan kasur di atasnya. Makan malam pun dimulai—acara demi acara berlalu, sampai suatu ketika Ayah blak-blakan berucap: apa kamu mau menjadi istri anakku?
Aku yang sedang minum, mendadak terkejut, lalu menyemburkan air yang sudah berada di tenggorokanku keluar mulut.
“Ayah!” Aku mendengus, kesal.
Sang Kekasih menatapku dengan penuh senyuman dan lirikan hangat, dia tertawa melihat tingkahku...
“Ayah hanya bercanda; mari makan” ayah kembali makan dengan lirikan penuh kelicikan.
Setelah beberapa saat berlalu, makan malam selesai. Suasana menjadi tenang. Ayah berpamitan, dia menangis, aku belum pernah melihat dia menangis seperti itu. Lalu diikuti beberapa pelayan yang ikut menangis atas kepulangan. Dewi kecantikan kekasih para dewa itu, Utami. Kami pun selesai berpamitan, seperti biasa, aku menggandengnya menaiki dokar. Lalu bergegas berlari menuju rumah mengingat malam semakin larut
“Utami, apa kamu senang malam ini?”
“Aku sangat senang.”
Diam-diam jari jemariku meraih jemari miliknya, mencoba merangkul. Namun tiba-tiba saja dia menolak.
“Jangan!”
Dia berteriak begitu kencang, aku tidak tahu-menahu.
“Apa kamu mencampur ikan di hidangan malam itu?” Dia sedikit merengek.
“Iya, Utami, ada apa?” Aku panik tak karuan.
“Sepertinya aku harus memberitahumu akan hal ini, aku mencintaimu, aku selalu memandangimu sejak awal kau masuk, dan sepertinya kamu juga mencintaiku...” Dia menangis. “...Ada beberapa hal di dunia ini yang alam manusia tidak ketahui, sebenarnya aku adalah anak naga emas. Asalku dari telaga warna, tepat di samping rumah ningrat Tionghoa itu. Kamu melihatnya kan? Danau kecil yang terlihat ikan di dasarnya dan tanaman rambat di pinggirnya. Itu alamku, karena memakan ikan yang kamu beri tadi, wujudku akan berubah dalam malam ini menjadi naga bersisik emas...”
Suaranya semakin serak, “Bertahanlah, aku akan segera ke danau itu!”
“Kekasihku... Aku mencintaimu.”
“Utami!” Aku meninju diriku sendiri, kesal. Bagaimana bisa aku tidak mengetahui apa-apa tentang Utami?
Delmanku segera berangkat ke danau yang diberitahu Utami, jalanan ini lurus, memanjang, kadang menanjak. Pepohonan rindang menutup malam ini, aku tidak takut lagi dengan semua hal di dunia ini, aku hanya takut... Utami, bertahanlah. Mungkin dunia masih bisa hidup tanpa kamu, tetapi, aku sedetik pun tidak akan membiarkanmu dalam bahaya.
Di tengah-tengah perjalanan, kulit Utami berubah menjadi sisik emas, kakinya pun berubah menjadi sirip. Suaranya meraung, yang tersisa dari tubuh manusianya hanyalah bagian kepala dan sepasang tangan.
“Kekasih...” Suaranya meraung, memecah keheningan malam.
“Tenang, Utami, kita sudah sampai!”
Aku memakirkan sembarangan delmanku, lalu memapah tubuh Utami yang sudah tertatih-tatih kesakitan karena meminta air: air, air, air!
Tanpa pikir panjang, aku segera melepaskan Utami di danau itu. Semula danau yang terlihat biasa itu kemudian mengeluarkan pelangi indah di dasar kolamnya. Lalu muncullah seekor naga yang sepertinya hendak menjemput Utami. Naga itu semakin mendekat, hembusannya menerbangkan rambutku yang sudah tergerai rapi sejak pesta tadi malam. Dengan sisik emas, matanya nampak seperti harimau. Tajam dan menyakiti, kakinya bagaikan kaki elang, terdapat banyak taring di pundaknya.
“Siapa kamu, mengapa kamu membawa anakku dalam keadaan seperti ini?” Suara naga itu nampak berat.
“Aku adalah kekasih Utami!” Aku berteriak kencang, seolah-olah hendak menantang. Namun, bukan begitu maksudku.
“Hohoho! Sudah lama tidak ada manusia yang berteriak kencang kepadaku. Nampaknya, kamu cari mati.”
Naga itu perlahan membuka mulutnya, partikel-partikel hitam berkumpul di antara mulutnya membentuk bola api yang siap ditembakkan kapan saja.
“Jangan, Ibu!” Utami dalam bentuk naga yang sempurna, menghalanginya. “Biarkan dia pergi.”
“Husy! Karena anakku yang berkeinginan, maka akan kukabulkan kali ini. Ayo cepat kembali, anakku.”
Ibu naga itu kembali kepermukaan danau lalu menghilang menyisakan pelangi yang berterbangan.
Demikianlah legenda mengenai Telaga Warna.
Komentar
Posting Komentar