Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Poetry

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Kau, Aku, dan Telaga Warna

Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata.   “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.”   Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu.   Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...

Puisi Filosofis: Gawu

Operasional yang sering digunakan. Ikut melangkah. Bulan dalam sistem penanggalan. Kisah muncullah. Semua orang tenggelam dalam pikiran mereka. Ingin menceritakan lagi soal matahari. Butuh proses yang cukup lama. Sepakat dengan kami. Bagian rencana yang paling sulit. Piranti lunak keparat itu ternyata tidak dapat bekerja. Memperlambat mereka dan menatap langit. Bukan kebetulan belaka. Orang-orang kembali menjadi kesatria. Pikiran selalu menemukan jalan keluar. Sadarlah kehadiran Anda. Merupakan sebuah pengantar.

Puisi Filosofis: Cermin Kuno

Sungai itu dingin, dan arusnya kuat. Sementara membasuh badan. Karena mendatangkan manfaat. Gemuruh hujan dari pendengaran. Sebuah cermin kuno yang dibeli. Kalo seumpama dia bicara. Pedang dan perisai setiap pagi. Berderap menuju kastel berikutnya. Hampir sepanjang peperangan. Berniat mencari sumbernya. Kristal tetapi berlian. Atau hewan yang luka.

Puisi Ekspresionis: Jam Pagi

Kami bertemu. Menjadi kekuatan besar di sebuah wilayah. Aku ingin bertemu adikku. Berkurang-kurangnya wajah. Sebuah pesan dari jalur aman. Siapa yang tahu. Sambil merendahkan. Jaga sikap dan perilaku. Wajah sangar memberitahu. Terdapat banyak mata yang berlatih. Masuk ke markas keluar tidak ada biru. Tak cukup rimbun lampu putih.

Puisi Ekspresionis: Mendengar

Seandainya aku menjadi hidup lagi. Menjaring manusia supaya tak sampai keluar sasaran. Jalan-jalan sunyi menjadi sepi. Sentuhan pada pertolongan. Pintu besar itu belum terbuka. Meringkuk di neraka sepanjang hari sambil bermimpi indah. Pertarungan pertama. Masih dikenakan tahanan rumah. Supaya dapat jatuh ke tangan. Berlari sepanjang dunia sembari berteriak. Menyingkirkan. Orang yang congkak.

Puisi Ekspresionis: Kembalinya Si Bulan

Melihat sekeliling dengan tercengang. Memeriksa jam tangan. Bersenang-senang. Ia menunjukkan. Selalu keras tapi tak pernah kejam. Hawa aneh berputar di kepala. Jika ia menghantam ombak. Ke bumi berupa bayang-bayang cahaya. Purnama pertama. Seketika menakjubkan. Tolong, jangan bicara. Biarkan bulan ini menjadi mematikan.

Puisi Ekspresionis: Aku Terjebak

Hutan angker tak lagi membuatnya gentar. Terhampar tebal di dasar hutan. Melihat ketegangan di sekitar. Semakin berat penebusan. Pedang itu merobek topi. Tanpa perlu bertanya. Ciri-ciri musuh sejati. Ucapan terakhirnya sebelum mereka memenggal kepala. Sangat banyak aksi. Kalau angka-angka ini akurat. Kemampuan untuk menghindarkan diri. Ketenangan yang tepat.

Puisi Ekspresionis: Hari Waktu

Karena dicekam perasaan ngeri. Aku melarikan diri ke segala penjuru. Harus menyaksikan semua ini. Dengan jantung yang berpacu. Tetapi apa yang disayangkan? Aku merasa sangat dikhianati. Hari demi hari penghukuman. Pergi kembali. Harimau tidak mengurangi kecepatan. Malam semakin larut. Dia mengenal makna mati dan kematian. Apa nyalimu ciut.

Puisi Politik: Sandiwara

Matamu boleh saja buta. Di wilayah yang lebih dekat. Dulu mereka memang berkuasa. Yang dilakukan sekarang hanya menggeliat. Lalu mengapa orang-orang merendahkan suara saat berbicara tentang penguasa. Hati-hati dikurung. Semut mengejek singa. Benar-benar makhluk dalam tempurung.

Puisi Cinta: Biliar Tiga Bola

Kain basah. Mengalami perasaan. Jadi kekuatan berubah. Mendukung tanpa membedakan. Bergerombol di atas rumah. Menekankan perbedaan ukuran. Terlanjur bersemu merah. Dibungkus dengan pemahaman. Biliar tiga bola. Perubahan besar. Mengalami keberadaan yang kaya. Aktif menyatakan di dunia sekitar.

Puisi Cinta: Pengumpat

Dimana pun. Aku mencintaimu. Kapan pun. Memerlukanmu. Menguasai tempat-tempat yang tinggi. Menuntut ilmu. Hari demi hari. Untuk mendapatkanmu. Loncat mendekap mulut. Muncul kembali. Secara perlahan surut. Hal tidak bisa dipahami.

Puisi Cinta: Mabuk

Aku kalau galau, bisa mandi sambil menangis di bawah pancuran. Kamar mandi shower juga rawan hantu. Pun, kamar mandi gayung jarang penampakan. Tetapi kalau bertamu. Ada makhluk yang melakukan perkawinan. Dengan gen luar ras unggul. Manusia ingin menguji kesetiaan. Penjara atau dijadikan tanggul. Seorang pemabuk kedapatan kencing sambil berdiri di lapangan.

Puisi Ekspresionis: Baju Berpeluru

Di mana tempat paling baik untuk menyerang. Agar tidak kehabisan buah kemenangan. Memang jarang pulang. Kita perlu merencanakan. Tahu apa strategi. Tak sepercik pun peluru mengotori lantai. Menguasai diri. Pergi ke gerai seketika ramai. Ada peluru di dalam. Mengenai benda dan mengerang. Akan pecah jadi enam. Memantul mengenai tulang.

Puisi Filosofis: Pembeku

Membekukan seluruh perasaan. Menghimpun apa yang tersisa. Belum lagi soal kekalahan. Perlu mengada-ngada. Menyongsong dari pinggir hutan. Bantuan tak pernah lagi datang. Semata­-mata berkat keberuntungan. Kami yang akan berkembang. Sekelompok pintar dari berbagai negara. Jalan panjang menuju kematian. kejadian atau pertanda. Keberanian bisa tumbuh sangat besar, mempertegas kemauan.

Puisi Eksperimental: Teknologi

Bukan tak ada risiko. Yang tersimpan dalam botol jin. Dengan ilmu tekno. Orang yang sudah membikin mesin. Itu adalah kemunafikan semata. Menjeratku agar aku mau menjadi orang yang kuno. Mencari bola yang seharusnya ada. Di warung­-warung dan toko­-toko. Aku bilang tinggalkan aku sendiri. Tanda keseriusan keadaan. Terperangkap di dalam galeri. Lantang tentang keberhasilan.