Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata. “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.” Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu. Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...
Ini mulai menarik! Teruskan!
Apakah aku salah?
Aku takut menerima usulan.
Meski itu tidak salah.
Butuh cara sederhana untuk mengetahui tugas itu.
Perasaan bahwa seseorang tidak berharga.
Dimanakah perasaan yang paling dekat dari situ?
Mencampakkan pikirannya melalui jendela.
Tiba-tiba, ia menyendok sebatang pikiran.
Dengan berang ia memanggil perasaan kepala.
Dia berpikir sejenak, kemudian:
Dengan sentuhan halus saja.
Engkau akan menerima medali.
Ia menanyai setiap orang.
Tolong katakan, di mana jalur lain jalan ini?
Masukkan barang itu, dan berhenti berbaring!
Komentar
Posting Komentar