Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata. “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.” Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu. Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...
Waktu laut mampir di permukaan pantai beberapa tahun ini.
Aku memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Dia melirik ombak yang berhenti mendaki.
Ingatannya merekam kebersamaan keduanya.
Tentang Aku dan Ombak.
Seorang anak lelaki duduk di sebuah meja.
Kenyataan itu mungkin akan terkuak.
Ombak bukanlah manusia.
Ombak, lihatlah kemari!
Itu adalah percakapan tanpa pokok.
Tanpa basa-basi.
Pikirannya menggebrak.
Anak lelaki melakukan percakapan singkat dengan sahabatnya, laut.
Selalu ada yang disisakan laut selain ombak.
Saat bulirnya yang dingin memaksa seorang anak kecil itu memacu kaki lebih cepat.
Sang anak lalu mengangkat wajahnya yang sempat beberapa saat tertunduk.
Dan dia hanya dapat mengucapkan kata-kata enteng yang berat dijabarkan:
Tunggu aku, kawan!
Komentar
Posting Komentar