Langsung ke konten utama

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Tidak Ada yang Abadi di Dunia Ini

 

Di dunia ini, tidak ada satu pun yang harus kita pertahankan dengan penuh pengorbanan. Baik itu pasangan, jabatan, harta, rumah, bahkan hubungan di luar pernikahan. Semua itu bersifat sementara, fana. Ketika kita meninggalkan dunia ini, mereka juga akan hilang. Pasangan mungkin akan menikah lagi, jabatan akan diambil alih oleh orang lain, dan rumah yang kita tempati sekarang mungkin akan dihuni oleh orang yang sama sekali tidak kita kenal dalam seratus tahun mendatang. Mengenai hubungan di luar pernikahan, itu bahkan tidak perlu diperbincangkan lebih jauh. Jadi, mengapa kita harus mempertahankan hal-hal yang sementara dengan segenap tenaga?


Dalam kehidupan, sering kali kita memperoleh pelajaran berharga dari orang-orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Pelajaran tersebut tidak selalu datang dalam bentuk hal-hal yang baik. Kadang-kadang, justru dari pengalaman yang kurang baik kita dapat memetik hikmah yang lebih besar. Biaya untuk belajar dari kesalahan orang lain jauh lebih murah daripada mengalami kesalahan itu sendiri. Sebagai contoh, seorang pemabuk dapat mengajarkan kita betapa merusaknya alkohol, dan seorang penjudi dapat memberikan pelajaran tentang betapa cepatnya harta dapat lenyap melalui perjudian. Kehidupan akan terus mengulangi pelajaran yang sama hingga kita benar-benar memahaminya.


Kehilangan, kesedihan, serta berbagai hal buruk lainnya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Kita tidak dapat menghindari hal-hal tersebut. Lantas, bagaimana kita seharusnya menyikapi situasi yang tidak dapat diubah? Baik kebahagiaan maupun kesedihan merupakan bagian dari siklus kehidupan. Satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah menerima kenyataan tersebut, serta berusaha memperkuat diri kita, baik secara fisik maupun mental, dalam menghadapi segala tantangan.


Kasih sayang adalah hal yang paling esensial dalam kehidupan. Segala hal yang baik berawal dari cinta. Cinta adalah fondasi utama dari semua kebaikan. Ketika kita mencintai sesuatu—entah itu pekerjaan, hobi, atau sesama manusia—cinta itu akan kembali kepada kita. Bahkan ketika kita menghadapi takdir yang tidak kita inginkan, cinta dapat membantu kita menerimanya dengan lebih ringan. Karena setiap manusia dilahirkan melalui cinta, tidak ada alasan bagi kita untuk dipenuhi oleh kebencian. Dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika kita semua saling mencintai.


Namun, meskipun kita berusaha menjadi pribadi yang baik, akan selalu ada individu yang tidak menyukai kita, sebaik apa pun sikap yang kita tunjukkan. Hal tersebut seharusnya tidak menjadi masalah besar. Yang terpenting adalah kita tetap teguh pada prinsip kebaikan. Kita tidak dapat mengendalikan pikiran atau sikap orang lain terhadap kita, oleh karena itu, lebih baik fokus pada bagaimana kita menjalani kehidupan kita sendiri.


Pada akhirnya, sejauh apa pun langkah yang kita tempuh, kita pasti akan kembali pulang. Tempat pulang terbaik adalah tempat yang memberikan kita kedamaian. Oleh sebab itu, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar ketika waktu itu tiba, kita disambut dengan baik.


Mati bukanlah hal yang menakutkan bagi saya, selama kita meninggalkan dunia ini dengan cara yang baik. Kekhawatiran saya bukan pada kematian itu sendiri, melainkan meninggal dalam keadaan yang tidak baik.


Di samping itu, saya juga memiliki pandangan yang mungkin berbeda dari sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya terkait dengan pernikahan dan memiliki anak. Saya merasa perlu mengingatkan orang tua serta orang-orang terdekat untuk berhenti menanyakan kapan saya akan menikah atau memiliki anak. Menurut saya, penting untuk menegaskan bahwa saya belum berencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi memiliki anak. Saya ingin menghentikan asumsi bahwa terdapat usia ideal untuk menikah, karena tekanan semacam itu dapat memengaruhi keputusan kita dalam memilih pasangan atau bahkan mendorong kita untuk melangsungkan pernikahan yang mungkin belum tepat waktunya. Pernikahan serta keputusan untuk memiliki anak seharusnya berdasarkan pemikiran yang matang, bukan desakan dari lingkungan.


Pandangan saya tentang pendidikan anak juga cukup berbeda. Meskipun saya belum berencana menikah, saya telah memikirkan bagaimana saya ingin mendidik anak-anak saya kelak. Saya ingin mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengeksplorasi hobi mereka dan tidak terlalu terbebani oleh kurikulum sekolah yang padat. Jika mereka harus bersekolah, saya tidak akan mendorong mereka untuk mengejar karier sesuai dengan ekspektasi umum masyarakat. Sebaliknya, saya ingin mereka mengejar minat mereka, baik melalui perguruan tinggi atau program pelatihan yang sesuai dengan bakat mereka. Saya tidak ingin anak-anak saya terjebak dalam sistem pendidikan yang kaku, seperti yang saya alami, di mana saya baru menyadari minat sejati saya setelah dewasa.


Selain itu, saya percaya bahwa bergadang tidak selalu buruk, selama dilakukan dengan bijaksana. Meskipun bergadang memang tidak ideal bagi kesehatan, saya meyakini bahwa bergadang dapat bermanfaat jika digunakan untuk hal-hal yang produktif. Kreativitas sering kali muncul secara tiba-tiba, dan inspirasi terkadang datang di tengah malam. Oleh karena itu, selama kita bergadang untuk hal-hal yang bermanfaat serta tetap menjaga kesehatan melalui asupan nutrisi yang tepat, saya rasa hal tersebut dapat diterima. Kesehatan memang penting, namun menjaga kreativitas juga tidak kalah esensial.


Dengan pandangan hidup seperti ini, saya berharap dapat menjalani kehidupan yang lebih tenang dan selaras dengan hal-hal yang benar-benar berarti bagi saya. Pada akhirnya, kehidupan adalah tentang menemukan keseimbangan antara cinta, pilihan yang bijaksana, dan menerima kenyataan bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Ekspresionis: Sebungkus!

Begitu mengerikan. Bungkusan daun pisang terikat tali. Di bawah pepohonan. Dia adalah semangkok nasi. Bungkusan daun pisang yang terikat tali. Bukan hanya mengenakkan masakan. Kombinasi antara unsur praktis dan alami ini. Apa sebutannya kalau bukan kelezatan? Sekarang tidak ada lagi soal pencemaran. Lebih aman rasanya. Ini sedang kusiratkan. Sampah alami mudah terurai dimana-mana. Jadi, itulah yang diakibatkan. Bumi yang segar dan indah. Jika kalian mengizinkan. Menyantap sebungkus nasi beralaskan daun pisang dengan sambal matah.

The Autobiography of Alfino Hatta

Alfino Hatta. Aku dilahirkan di sebuah kota Depok yang indah, di bawah naungan rahmat-rahmat Tuhan semesta alam. Sejak kecil, Alfino sangat senang menulis hingga menciptakan beragam cerita pendek, novel, puisi, menulis artikel untuk majalah, dan kini sedang merambah dunia skenario film. Leonardo da Vinci kedua dalam hidupku, yang mengenalkanku pada diriku sendiri, memikirkan berbagai keilmuannya, adalah para guru dan teman-teman ini: teman terbaik, guru tanpa tanda jasa. Sang ibu dari waktu, penasihat segala.

Mengapa Orang yang Tampak Selalu Ceria Merasa Sangat Tertekan?

Sering kali, kita menemui individu yang tampak selalu ceria dan pandai melawak, seolah-olah hidup mereka dipenuhi kebahagiaan tanpa henti. Namun, di balik keceriaan tersebut, mungkin tersembunyi rasa sakit yang tidak terlihat. Salah satu contoh paling mencolok dari fenomena ini adalah mendiang Robin Williams. Sebagai seorang aktor dan komedian, Williams dikenal dengan kemampuannya menciptakan tawa dan mencairkan suasana, seakan tawa adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya. Di hadapan publik, ia senantiasa tampil sebagai sosok yang humoris dan penuh energi. Namun, di balik persona komedian ini, Williams menyembunyikan perjuangan berat melawan depresi. Meskipun di akhir hidupnya ia juga menghadapi penyakit Parkinson, depresi yang ia alami menjadi faktor signifikan yang mendorong keputusan tragis untuk mengakhiri hidupnya. Kisah ini mencerminkan sebuah ironi mendalam. Orang-orang yang dikenal humoris sering kali dianggap kebal terhadap kesedihan. Masyarakat cenderung tidak ...

Demokrasi dan Kepemimpinan Indonesia: Kepresidenan Prabowo Subianto & Gibran Rakabuming Raka 2024-2029

Kepemimpinan di Indonesia, terutama dalam konteks pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029, mencerminkan perjalanan panjang demokrasi yang penuh tantangan. Dalam sejarah politik Indonesia, setiap suksesi kepemimpinan selalu membawa harapan baru, namun juga tidak lepas dari berbagai polemik yang menyertainya. Pelantikan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka tahun ini menghadirkan berbagai pertanyaan penting terkait dinamika politik dan demokrasi di negeri ini. Di satu sisi, proses demokrasi tetap berjalan sesuai prosedur melalui pemilihan umum. Namun, di sisi lain, kontroversi seperti putusan Mahkamah Konstitusi yang mengizinkan Gibran maju sebagai calon wakil presiden meskipun usianya belum memenuhi syarat, menimbulkan pertanyaan besar tentang integritas lembaga-lembaga negara dan pengaruh kekuasaan dalam proses politik. Fenomena ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi demokrasi Indonesia. Ketika aturan-aturan konstitusional dapat diubah atau...

Catatan Jalaludin Rumi

Seperti yang dicatat oleh Jalaludin Rumi, cinta sejati melibatkan pengorbanan tanpa batas dan penerimaan tanpa syarat. Pada akhirnya, cinta adalah keputusan untuk terus mencintai bahkan ketika alasan-alasan tersebut memudar. Peluklah cinta yang tulus, biarkan ia mengalir dengan bebas.

Puisi Ekspresionis: Isolasi Sempurna

Secercah rasa bergumul di hati. Paradoks ketiga. Permasalahannya dekat dengan realitas keseharian kami. Aku hanya duduk di kursi berbentuk gurita. Bukti-bukti mulai menumpuk. Isolasi sempurna. Masing-masing bersenjatakan sepucuk. Setelah perang dunia kedua. Angin bertiup. Terbuka oleh sesuatu. Setelah sebuah kesalahan cukup. Mengenakan celana panjang flanel berlipit berwarna kelabu.

Puisi Eksperimental: Teknologi Blockchain

Di seri segala listrik. Mulai diadopsi banyak orang. Makin semakin populer dan dilirik. Disarankan penggunaan oleh para ahli atau pengembang. Modifikasi dari lapisan yang lebih atas. Cenderung konvensional dalam mengadopsi produk baru. Menyimpan satu atau lebih nilai-nilai di dalam satu atau multidimensi langsung secara gratis. Pengolahan citra, kecerdasan buatan, basis data, pemrograman, dan lebih mudah dijangkau. Juga tugas instalasi, konfigurasi yang relatif mudah, dan penjelajahan secara sederhana. Yang dapat digunakan di berbagai mesin. Tiada memiliki keterbatasan, dan seterusnya. Diluar masalah ini, terus dikembangkan.

Mengapa Cinta Sejati Melewati Segala Alasan?

Cinta, dalam berbagai pemikiran dan perspektif, sering kali dibagi menjadi dua jenis: cinta yang belum matang dan cinta yang sudah dewasa. Cinta yang belum matang muncul dengan ungkapan, "Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu," sebuah bentuk cinta yang berpusat pada diri sendiri. Di sini, cinta dipandang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tanpa memedulikan kebutuhan dan kebebasan orang yang dicintai. Ini adalah cinta yang penuh tuntutan dan kontrol, di mana pasangannya dianggap sebagai milik yang harus terus memenuhi ekspektasi. Sebaliknya, cinta yang dewasa menggambarkan hubungan yang lebih tulus dan mandiri, sebagaimana terungkap dalam pernyataan, "Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu." Dalam bentuk cinta ini, seseorang menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah hasil dari pemenuhan kebutuhan pribadi semata, tetapi berasal dari kesadaran mendalam akan cinta itu sendiri. Pasangan dihargai sebagai individu yang merdeka, dengan ruang untuk tu...

Puisi Cinta: Tak Ada Cinta Lagi

Aku tidak bisa lagi tidur. Dunia mimpi sudah jauh lebih mengabur. Jikapun bisa masuk. Mampus aku dikoyak-koyak dalam mimpi. Memikirkan dia. Ia tersenyum. Sampai-sampai jantungku terhenti berlari. Sang Terkasih. Begitu panggilanku untuknya. Yang menyeruak di seisi langit mimpi. Aku minta pula sampai di surga. Adakah jauh percintaan ini? Aku menyebut satu nama cantik. Ia begitu sangat cantik. Dan dia yang memenuhi segala. Meski hanya secarik. Pesan kertas yang ditinggalnya. Entah berapa lama.  Kelana tidak berujung ini tamat. Tidak mendapat. Satu pun hikmat. Atau penerimaan yang di terima.

Dunia Sempurna Tanpa Kebebasan atau Dunia Tak Pasti dengan Kebebasan?

Apabila diberikan pilihan, apakah lebih baik hidup di dalam suatu dunia yang tampak sempurna namun tanpa kebebasan, ataukah di dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian tetapi menawarkan kebebasan? Pertanyaan ini, pada hakikatnya, mencerminkan dilema esensial yang menjadi pusat pemikiran filsafat kehidupan manusia. Kebebasan, meskipun sering kali disertai oleh ketidakpastian yang tidak terhindarkan, cenderung dipandang sebagai unsur fundamental yang mendefinisikan eksistensi manusia. Tanpa kebebasan, kemampuan kita untuk menentukan arah dan tujuan hidup kita sendiri hilang, dan dengan demikian, kita hanya akan menjadi entitas mekanis, tidak berbeda dari mesin atau robot yang sepenuhnya dikendalikan oleh kehendak eksternal tanpa adanya kehendak bebas. Dalam pandangan saya, adalah jauh lebih bijaksana untuk memilih kehidupan yang berlandaskan pada prinsip-prinsip yang jelas dan kokoh. Pertanyaannya kemudian adalah... Apakah sebenarnya tujuan dari kehidupan kita? Apakah tuj...