Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia. Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges. Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention. Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source: https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...
Pikiran tentang percintaan memenuhi diriku dengan perasaan malu serta penderitaan yang terlalu dalam untuk dijelaskan. Andai aku bisa bertemu di kehidupan yang kedua kali itu lagi, duduk dan berbicara dengannya… rasa nyeri menyengat hati yang hancur, akan menjadi rasa yang tenang.
Sesungguhnya aku sangat ahli dalam hal mencari-cari kesempatan. Tetapi perkara sebuah dugaan yang hampir jutaan dialognya baru sekali itu kulakukan. Untung, sebelum pergi menutup pembicaraan, temanku memberikan petunjuknya. Pengungkapan tersebut aku tidak atur dengan baik.
Tapi, diamnya diriku bukan berarti aku tidak mengeluh dalam hati. Tak jarang aku menjadi terdiam dan sedih saat mengingat tentang sang kekasih para dewa yang berpelukan begitu “saja” menanti sang pemilik jiwa, namun aku hanya bisa melampiaskannya dengan berdecak sendiri, yang pastinya tidak akan dipedulikan dengan sang pemikiran. Sekali lagi, ini karena aku tidak mau cari gara-gara.
Mungkin saja, tidak terhitung berapa kali aku akan meneriaki ingatanku agar tidak mengolok-oloknya secara kelompok, bilang bahwa seluruh kejadian ini ada di tangannya. Mana mungkin aku bisa menggantungnya kalau ada yang tidak beres.
Ah, dunia belahan jiwa!
Perlu dipahami bahwa ini bukanlah kisah dongeng ala Disney di mana Pangeran Tampan muncul dengan kuda putih untuk menyelamatkan. Tidak. Ini jauh lebih mendalam, lebih kompleks, dan—tentu saja—lebih melelahkan.
Manusia yang selalu bersama pemikirannya—sering kali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Manusia yang berpikir bersama orang-orang dari berbagai semesta—atau berpikir sendiri-sendiri. Mereka yang minum dengan air-air pemikirannya sendiri—bisa berpikir. Mereka yang suka ngebut mencari solusi di hadapan mereka—bisa berbahasa dengan baik.
Tidak ada yang mudah dalam cinta. Serius, tidak ada. Cinta itu seperti mendaki gunung sambil membawa koper berat, tapi koper itu penuh ilusi dan harapan yang kadang-kadang malah membuatmu tersandung. Aku berusaha keras, berkeringat, dan sesekali berhenti untuk menarik napas, sambil berpikir, "Kenapa aku melakukan ini lagi?" Tapi ya, tidak ada yang mudah dalam cinta.
Komentar
Posting Komentar