Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata. “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.” Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu. Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...
Pikiran tentang percintaan memenuhi diriku dengan perasaan malu serta penderitaan yang terlalu dalam untuk dijelaskan. Andai aku bisa bertemu di kehidupan yang kedua kali itu lagi, duduk dan berbicara dengannya… rasa nyeri menyengat hati yang hancur, akan menjadi rasa yang tenang.
Sesungguhnya aku sangat ahli dalam hal mencari-cari kesempatan. Tetapi perkara sebuah dugaan yang hampir jutaan dialognya baru sekali itu kulakukan. Untung, sebelum pergi menutup pembicaraan, temanku memberikan petunjuknya. Pengungkapan tersebut aku tidak atur dengan baik.
Tapi, diamnya diriku bukan berarti aku tidak mengeluh dalam hati. Tak jarang aku menjadi terdiam dan sedih saat mengingat tentang sang kekasih para dewa yang berpelukan begitu “saja” menanti sang pemilik jiwa, namun aku hanya bisa melampiaskannya dengan berdecak sendiri, yang pastinya tidak akan dipedulikan dengan sang pemikiran. Sekali lagi, ini karena aku tidak mau cari gara-gara.
Mungkin saja, tidak terhitung berapa kali aku akan meneriaki ingatanku agar tidak mengolok-oloknya secara kelompok, bilang bahwa seluruh kejadian ini ada di tangannya. Mana mungkin aku bisa menggantungnya kalau ada yang tidak beres.
Ah, dunia belahan jiwa!
Perlu dipahami bahwa ini bukanlah kisah dongeng ala Disney di mana Pangeran Tampan muncul dengan kuda putih untuk menyelamatkan. Tidak. Ini jauh lebih mendalam, lebih kompleks, dan—tentu saja—lebih melelahkan.
Manusia yang selalu bersama pemikirannya—sering kali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Manusia yang berpikir bersama orang-orang dari berbagai semesta—atau berpikir sendiri-sendiri. Mereka yang minum dengan air-air pemikirannya sendiri—bisa berpikir. Mereka yang suka ngebut mencari solusi di hadapan mereka—bisa berbahasa dengan baik.
Tidak ada yang mudah dalam cinta. Serius, tidak ada. Cinta itu seperti mendaki gunung sambil membawa koper berat, tapi koper itu penuh ilusi dan harapan yang kadang-kadang malah membuatmu tersandung. Aku berusaha keras, berkeringat, dan sesekali berhenti untuk menarik napas, sambil berpikir, "Kenapa aku melakukan ini lagi?" Tapi ya, tidak ada yang mudah dalam cinta.
Komentar
Posting Komentar