Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata. “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.” Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu. Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...
"Mengapa Orang Lain Bisa, Sementara Saya Tidak?"
Mengapa harus berpikiran seperti itu? Jangan begitu.
Itu adalah kenyataan yang memang tak bisa dipungkiri dan tidak perlu dibuktikan lagi.
Setiap orang memiliki keunikan dan perannya masing-masing dalam kehidupan ini. Peran tersebut tentu berbeda-beda, dan jika memaksakan diri untuk berperan seperti orang lain, hal itu tidak akan berhasil, atau setidaknya tidak akan berkembang besar.
Jika diibaratkan dengan binatang, ada yang hidup di udara seperti burung, ada yang hidup di air seperti ikan, dan ada yang dapat hidup di dua tempat seperti amfibi. Namun, perbedaannya, burung sama sekali tidak bisa hidup di dalam air dan tidak bisa dipaksakan untuk melakukannya.
Sedangkan manusia, meskipun bisa dipaksakan untuk berperan di tempat lain, hasilnya tidak akan optimal. Contohnya, seseorang yang bukan perannya menjadi pedagang, memang bisa dipaksa untuk berdagang, tetapi hasilnya tidak akan besar karena bukan di situlah tempatnya. Orang tersebut akan melakukannya dengan terpaksa dan setengah hati, karena hatinya sebenarnya tidak berada di sana.
Oleh karena itu, temukanlah keunikan dan peranmu sendiri. Meskipun kamu mungkin tidak bisa melakukan apa yang orang lain lakukan, hal yang sama berlaku sebaliknya. Orang lain pun tidak akan bisa melakukan apa yang sudah kamu lakukan.
Jadi, jangan memaksakan diri. Mengapa harus membandingkan diri dengan orang lain yang bisa melakukan sesuatu, sedangkan kamu tidak bisa? Setiap orang memiliki batasan dan kapabilitasnya masing-masing, dan apa yang kamu lakukan cukup pada batas kemampuan dirimu sendiri.
Jika kamu tidak bisa memasak, tidak perlu dipaksakan. Jika kamu pendiam, tidak usah memaksa diri untuk menjadi lebih cerewet. Jika ada bidang tertentu di mana kamu merasa kurang cerdas, lakukanlah pada batas maksimal kemampuanmu.
Dan mengenai dosa, tidak apa-apa jika kamu belum bisa mencapai kesempurnaan dalam kebaikan. Setiap orang memiliki kekurangannya, dan hal itu sangat manusiawi.
Komentar
Posting Komentar