Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata. “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.” Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu. Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...
Apakah Banyak Psikolog Mengalami Gangguan Mental? Mitos atau Fakta?
Permasalahan kesehatan mental di kalangan psikolog terapan ternyata cukup umum, namun sering kali diabaikan. Hal ini mungkin disebabkan oleh anggapan bahwa topik ini masih tabu untuk dibahas secara terbuka dalam profesi tersebut.
Namun, menurut studi yang dilakukan oleh Sarah E. Victor dan timnya, kita perlu mulai menaruh perhatian yang lebih serius terhadap isu ini. Penelitian mereka menunjukkan bahwa sejumlah besar staf pengajar, mahasiswa pascasarjana, serta individu yang terlibat dalam program doktoral, magang psikologi klinis, konseling, dan pendidikan, mengalami tantangan kesehatan mental yang serius.
Dari 1.692 responden yang diteliti, lebih dari 80% mengaku pernah mengalami masalah kesehatan mental, dan hampir setengah dari mereka telah didiagnosis dengan gangguan mental. Masalah yang paling umum adalah depresi, gangguan kecemasan umum, serta pikiran atau perilaku bunuh diri.
Hal yang mengejutkan adalah mereka yang telah didiagnosis dengan gangguan mental cenderung menghadapi masalah yang lebih spesifik dan mengalami kesulitan yang berkelanjutan dibandingkan dengan mereka yang belum didiagnosis. Mahasiswa, khususnya, lebih rentan mengalami masalah mental yang berkepanjangan dibandingkan dengan staf pengajar.
Kondisi ini sangat memprihatinkan. Tingkat gangguan mental di kalangan staf dan mahasiswa psikologi ternyata sama atau bahkan lebih tinggi daripada populasi umum. Hal ini menjadi pengingat bahwa mereka yang bekerja untuk membantu orang lain juga membutuhkan perhatian serius terkait kesehatan mental mereka sendiri. Oleh karena itu, perlu ada keterbukaan dan dukungan lebih besar bagi para profesional di bidang ini.
Penelitian ini dengan jelas menunjukkan bahwa isu kesehatan mental di kalangan psikolog terapan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar.
Komentar
Posting Komentar