Langsung ke konten utama

Postingan

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Puisi Politik: Rasisme

Rasisme tidak akan lagi dipandang dalam bangsa. Dan cukup berarti dalam pembangunan. Jika mereka tidak dianggap sebagai laskar bersenjata. Dimana perbedaan menjadi alat predator untuk melakukan penindakan. Dengan agama. Yang dapat mendidik manusia hanya dalam hitungan surat. Ini adalah hal luar biasa. Dengan cara mendengar dan melihat. Mengundang si penjual dan si pengangkut kuli. Semua orang di kota itu merasakan hasil pendidikan tersebut. Segala sesuatunya dari: Kejahatan yang kian menyurut.

Puisi Cinta: Sederhana

Peraturan dunia ini sederhana: Sewaktu muda, kesempatan besar datang lalu ambil. Yang muncul dalam mimpi-mimpi kecilnya. Dan setidaknya selama beberapa waktu, upaya itu berhasil. Dunia menjadi rumah dan selalu rumit. Menyusahkan dengan dunia. Tampak menahan emosi yang sulit. Tapi kini, untuk pertama. Mereka adalah penunggu setia. Selalu belajar. Turun dari tempat tidur dan memeriksa.  Sebagaimana kebanyakan terpelajar.

Puisi Ekspresionis: Cerita Ayah

Aku ingin tahu kelanjutan cerita ayah. Di depan rumah, ayah membuat tabel mirip buku besar. Setiap akhir penjelasannya, dia meneguk ludah. Di sebuah keluarga, ide-ide beredar. Ketukan-ketukan itu menghasilkan pantulan padat. Ayah benar-benar mengajarkan. Mendebarkan, kognisi padat. Dengan analog-analog mengejutkan.

Puisi Politik: Benang Revolusi

Aku mengembuskan napas kesal. Karena aku belum paham. Dia yang menggenggam pensil. Tadi malam. Terbingkai dalam sebuah bidang. Wajah itu benar-benar terlintas. Tiada kesedihan, hanya senang. Membuatku menjadi kertas-kertas. Pada waktu itu. Dia meletakkan sabda revolusi. Harus melewati jalan setapak yang terus menanjak dulu. Jebakan yang dibuat untuk mengelabui. Dengan jawaban yang menghembuskan napas pendek. Kapal itu dia puluh tahun yang lalu sempat menjadi pergunjingan. Juga para Kadek. Sungguh jawaban yang menyakinkan.

Puisi Ekspresionis: Cahaya Matahari

Kala itu, cahaya matahari menyapa kami di tempat yang berbeda. Seolah-olah ingin menunjukkan. Mendengarkan laporan-laporan bahwa. Telah dicanangkan. Itu juga jadi gangguan serius. Kenapa tidak? Cerita saja. Kita semua berkemas. Sehingga ketika kekasih datang, dia tidak sibuk apa-apa. Selesai sudah rencana itu. Di sebuah pernikahan besar. Secara otomatis saat mengenali wajahku. Kemudian disuruh belajar.

Puisi Politik: Negeri

Tak banyak yang kusaksikan di negeri ini. Aku sudah terbiasa dengan jebakan kekecewaan. Ia menawariku kesempatan atas perintah ini. Tetapi aku sudah menelintir jauh dari pembahasan. Bagaimanapun, hatiku merasa lengang. Di sebuah negara seseorang akan menjadi perintis sebuah dinasti baru. Ke suatu tempat yang lebih tenang. Antara dia dan milikmu. Perbedaannya seperti jarak sepenggal daratan Jawa. Bukan berarti mendentingkannya satu sama lain. Semua orang dapat bercerita. Terkadang aku malah menaklukkan harapan.

Puisi Cinta: Berdandan Cantik

Aku jadi sasaran empuk. Siapa yang tak mengenal cinta. Dia berdandan cantik. Menempel di tangan keduanya. Hari itu adalah hari bersejarah bagi pecinta. Meninggalkan orang itu sendiri. Pasrah apa pun yang akan dilakukan pada dirinya. Segerombolan makhluk yang disukai. Aku terkejut mendengar sebuah maklumat. Tak peduli bahkan seandai­ nya ia harus jadi pelacur. Dia bersuara dan dialah pemilik suara tersebut. Sementara aku lelaki kekar. Bagi orang pecinta. Rahasianya, tidak diputuskan untuk membuka dulu. Tampak mencintai di matanya. Rahasia sepanjang waktu.

Puisi Politik: Untukmu Negeri

Untuk mengubah semua value dari pemerintahan. Gunakan fungsi hukuman mati. Setelah proses hukuman mati diselesaikan. Dapat digolongkan menjadi-jadi. Sudah berapa tahun lebih. Koruptor sejahtera. Berpuluh-puluh. Triliunan jumlahnya. Aku telah memahami bahwa negara: Bertujuan untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. Tetapi, pihak yang mana? Untuk kelompok? Maka menjabatlah dengan indah. Temukan esensi menjabat. Daripada memperburuk masalah. Pernahkah kamu melihat dua pihak saling bertukar pendapat? Lakukanlah.

Puisi Politik: Aku Menemukanmu

Aku menemui kamu untuk menyampaikan pesan. Jumlahku mayoritas. Bagaimanapun aku selalu memperhitungkan. Pada tanggal tujuh belas. Aku berjalan sebentar. Melewati kantin-kantin. Dikunjungi akhir-akhir. Di dalam zaman. Angin kencang bertiup berhadapan. Semua situasi yang pasti dapat diubah menjadi keuntungan. Dalam proses demokrasi, penerusan, sepanjang kemandirian. Yang menjadikan pengepungan lebih menguntungkan.

Puisi Cinta: Intelijensi

Persoalan percintaan. Aku tak tahu harus berkata apa. Ini adalah kemandirian. Yang menjadi bagian terpadu dari hal yang berbeda. Definisi favoritku mengenai cinta. Adalah seseorang dengan kemampuan tinggi. Semua itu juga merupakan kriteria. Mereka harus melakukan inovasi. Bagi pecinta, intelijensi adalah inti. Yang harus diandalkan. Kerahkan ulang dan ditanggapi. Jika dia pergi ke medan pertempuran.

Puisi Ekspresionis: Metode Masukan

Lagi-lagi dia, jelas. Kesepian juga meliputi bangunan besar ini. Kini pembicaraan bingung menjadi serius. Hening. Tiba-tiba dia menatap lagi. Segala hal tentang percakapan ini memancarkan ketegangan dan kondisi bertahan. Aku melihat lencana tidak jelas. Sambutan publik sangatlah tidak menggembirakan. Bagaimanapun mereka bertekad dengan ringkas.

Puisi Eksperimental: Lelaki yang Berdagang

Aku menanyakan apa yang ingin aku beli. Aku tak ingin beli sirih, tetapi ingin beli mangga. Lelaki yang berdagang ini. Dan tentu saja. Menurut cerita mbah dulu. Senja yang sudah turun. Tak akan bisa keluar dari pintu. Tetapi tempo dulu ada pilihan lain. Memotong takdir yang melintang. Suatu kekonyolan yang mulai terkoreksi. Bongkar takdir tengah berlangsung. Memadukan pesona lama dan kemajuan masa kini. Penghubung mereka dengan nelayan modern. Jagat robot. Manusia tak berani keluar dari persembunyian. Sudah lewat masa ketat.

Puisi Cinta: Lampau

Dia melangkah meninggalkan kantin. Di sejumlah kota besar di Eropa. Cara ketawa dia lakukan. Mengapa tidak ada? Tiba-tiba saja menghilang. Mendekati pertempuran dengan hati-hati. Masa lampau yang gilang-gemilang. Kota Makau yang gemerlap dipadati. Di suatu sore biasa yang terwujud dalam tidur. Awalnya, aku agak enggan. Pengalaman baru yang getir. Ucapan yang terkandung cukup mematikan. Daripada pikiran lain yang mengusik angan-anganku. Aku ingin mengucapkannya sepenuh hati. Sudah ribuan kilometer saya tempuh dengan cinta itu. Satu orang yang lagi berdiri.

Puisi Komedi: Tentang Humor

Aku mengekplorasi lebih jauh. Humor lebih sekedar dari hiburan. Sedikit beraksen, berwibawa, tapi ramah. Seperti cahaya mengisi ruangan. Itu istilah halusnya. Inilah cara yang disukaiku. Mereka bagaikan hal yang berbeda. Membantu soal itu. Tapi, mencari humor tersebut tidaklah mudah. Humor adalah rumah keduanya. Dengan dinding-dinding keramik murah. Dia masih mampu bertahan selama bertahun-tahun, ucapnya. Bukan berarti humor adalah produk salah. Yang dibutuhkan dunia. Kau putuskan. Begitu pula humor yang diperbaiki dengan penuh kasih sayang. Itu membutuhkan waktu untuk cukup yakin. Ketika senja datang, dia tiba-tiba menghilang.

Puisi Cinta: Samudera

Mencintai adalah memberikan kacamata kita pada orang lain. Aku mempertimbangkan sesaat apa yang dikatakan hati. Banyak orang yang menganggap dirinya sedang melakukan pencarian. Ini hal paling sederhana di dunia ini. Siapapun bisa berlayar melintasi samudera seperti yang kau lakukan. Teman melihat dunia melalui mata seorang insinyur. Sama besarnya dengan kebutuhan. Berwatak sosial dan selera humor. Kami melangkah ke dalam penggerak pikiran. Berapa hati yang kau miliki? Yang dapat menghasilkan semburan. Pada setiap paragrafnya telah diisi.

Puisi Deskriptif: Kita Manusia Biasa

Ada manusia biasa di rumah tersebut. Berat perasaannya meninggalkan. Kita manusia biasa, bukan malaikat. Sosok yang berdiri atas perintah Tuhan di dalam keghaiban. Aku berbasa-basi sejenak dengan wanita. Padahal dalam hati, Kesulitan menarik pintu pembicaraan yang terbelah dua. Dan tak ingin mendengar lagi. Karena cinta adalah kota besar. Tentu saja apapun bisa terjadi. Sumberku adalah seorang profesor. Yang menghabiskan waktu 2 tahun di bidang psikologi. Beliau menafsir beberapa waktu belakangan. Kubaca satu barisan dengan merek global. Aku mendekati profesor terang-terangan. Mau menyuruh beliau tinggal. Rencana-rencana strategisku telah digagalkan. Selalu membuat lawan bicaranya menjadi ikut rasional.

Puisi Cinta: Cinta Semua Cinta

Semua cinta. Pada intinya, tidak ada garis lurus di dunia. Semuanya memutarnya. Para pecinta boleh bicara tentang apa saja. Beberapa cinta berdatangan kemudian. Penggerak hati yang tak terduga-duga. Juga menyumbangkan potongan penting bagi teka-teki percintaan. Lalu, biaya pemecahan itu juga memberi masa. Seluruh percintaan seperti itu. Pasti mengira ada segunung cinta. Dari semua pemandu. Lalu menempuh perjalanan panjang ke sana. Sebelum cinta terbesar yang pernah ada. Sekaligus. Lebih ekstrem dengan tamparan nyata. Hari itu seharusnya aku menjadi penulis. Mengaku sebagai pengagum cinta.

Puisi Deskriptif: Aku Tak Pernah

Aku tak mengira itu sebegitu kejinya hingga tak bisa bersuara lagi. Terbelalak melihat bentukmu yang memang mirip zombie. Dimana tempat kita berkumpul, berdiskusi. Tak peduli dengan pencapaian akademis. Ada serangkaian foto tentang siswa-siswi. Meski terasa segar dan manis. Teman, oh aku lega kamu kembali. Aku tak pernah tahu caranya saling mencintai. Menjawab datar. Mengangguk dengan berat hati. Dia bersandang pada karang besar. Sungguh tidak menempuh syarat: Boleh jadi demikian. Menjadi seorang sahabat. Tetapi bukankah itu penistaan? Hati tertutup salju. Mencakup tumpang tindih bergaya personil bersenjata. Ia bangkit berdiri dan mengangkat para serdadu. Dengan muka masih basah karena air mata.

Puisi Prosa: Logika Melahapku

Aku tak berani terlalu sering menoleh ke belakang. Aku semakin yakin bahwa tempat ini adalah sebuah ladang. Untuk jam-jam berikutnya aku tak punya keinginan untuk berbincang. Di dalam waktu, aku meluang. Aku juga tak bisa tidak bergerak. Sedang melihat apakah aku? Memikirkan berbuat sesuatu yang mengguncang dan terinjak-injak. Logika apapun akan digunakan demi menghidupkan penyangkalan itu. Menangani manusia yang karakternya melahap-lahap. Juga berapi-api. Di depan, suara manusia masih terdengar keras, menatap-natap. Manusia itu tentu bisa bervariasi.

Puisi Cinta: Sang Anak Cahaya

Teman adalah penjagaan. Ucapannya adalah pengorbanan. Cinta adalah keteguhan. Minatnya adalah kesepahaman. Ia menceritakan tentang betapa berat cintanya. Tetapi masih dengan setengah hati. Di belahan bumi lain yang sedang mengingatnya. Dia tidak peduli. Cinta. Kata itu memperdaya. Aku mendapati diriku menentang soal cinta. Tetapi apakah aku sungguh-sungguh tahu artinya? Dan tidak ada yang lebih kusukai ketimbang berbagi lumpia.

Puisi Ekspresionis: Aku dan Ombak Laut

Waktu laut mampir di permukaan pantai beberapa tahun ini. Aku memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Dia melirik ombak yang berhenti mendaki. Ingatannya merekam kebersamaan keduanya. Tentang Aku dan Ombak. Seorang anak lelaki duduk di sebuah meja. Kenyataan itu mungkin akan terkuak. Ombak bukanlah manusia. Ombak, lihatlah kemari! Itu adalah percakapan tanpa pokok. Tanpa basa-basi. Pikirannya menggebrak. Anak lelaki melakukan percakapan singkat dengan sahabatnya, laut. Selalu ada yang disisakan laut selain ombak. Saat bulirnya yang dingin memaksa seorang anak kecil itu memacu kaki lebih cepat. Sang anak lalu mengangkat wajahnya yang sempat beberapa saat tertunduk. Dan dia hanya dapat mengucapkan kata-kata enteng yang berat dijabarkan: Tunggu aku, kawan!

Puisi Politik: Penduduk Tetapi Penduduk

Seorang penduduk bermain politik dengan pemimpinnya. Tetapi, mengalami kegagalan. Seorang wanita tersesat, bertanya: Teruslah berjalan! Memulihkan keriangannya. Pertanda buruk bagi yang bertahan. Sesungguhnya ini bermula. Ada secuil bangga hati, telah bergabung dalam barisan. Aku selalu tersenyum sendiri. Mengapa kau tak pernah berhenti mengkritik. Disekap seharian di ruangan pengap dengan perut yang hanya terisi. Menjadi mainan orang berusia tua yang masih kekanak-kanak.

Puisi Komedi: Pahlawan Perasaan Tak Terlupakan

Ini mulai menarik! Teruskan! Apakah aku salah? Aku takut menerima usulan. Meski itu tidak salah. Butuh cara sederhana untuk mengetahui tugas itu. Perasaan bahwa seseorang tidak berharga. Dimanakah perasaan yang paling dekat dari situ? Mencampakkan pikirannya melalui jendela. Tiba-tiba, ia menyendok sebatang pikiran.  Dengan berang ia memanggil perasaan kepala. Dia berpikir sejenak, kemudian: Dengan sentuhan halus saja. Engkau akan menerima medali. Ia menanyai setiap orang. Tolong katakan, di mana jalur lain jalan ini? Masukkan barang itu, dan berhenti berbaring!