Langsung ke konten utama

Kau, Aku, dan Telaga Warna

Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata.   “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.”   Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu.   Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...

Mengapa Membeli Buku Tapi Jarang Membacanya Adalah Hal yang Wajar?


Sebagai seorang pencinta buku, saya memiliki kebiasaan yang mungkin terdengar familiar bagi banyak kutu buku lainnya: membeli buku dalam jumlah banyak, namun jarang menyelesaikannya. Kebiasaan ini sering kali melahirkan penyesalan terhadap buku-buku yang akhirnya terabaikan begitu saja, tak tersentuh oleh halaman demi halaman yang semestinya dijelajahi. Namun demikian, sebagai seseorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam dunia literasi, saya tidak menganggap pembelian buku secara berlebihan sebagai hal yang perlu disesali. Banyak pembaca yang saya kenal menunjukkan kecenderungan serupa, yakni membeli lebih banyak buku daripada yang mereka sempat baca. Fenomena ini tidak perlu menjadi alasan kekhawatiran, karena tampaknya hal ini merupakan sesuatu yang umum terjadi di kalangan para pencinta literasi.

Bagi seorang kutu buku, buku adalah segalanya. Ia bukan hanya sekadar barang yang dibeli untuk dipajang, tetapi juga teman setia di waktu senggang, hiburan yang menyenangkan, dan sebuah pintu gerbang menuju dunia-dunia baru yang tak terbatas. "Para kutu buku, pencinta bacaan sejati, seumur hidupnya mengumpulkan koleksi perpustakaan berharga. Mereka adalah sosok yang rela mengeluarkan biaya besar demi buku-buku yang akan menyita waktu berjam-jam, semata untuk belajar dan memahami lebih dalam, tanpa terganggu kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya," demikianlah gambaran umum para pencinta buku sejati. Mereka adalah sosok yang rela menghabiskan waktu dan uang demi menambah koleksi, baik itu berupa buku-buku keluaran terbaru maupun buku-buku langka yang telah lama diincar. Ketika ada pameran atau bazar buku, mereka berbondong-bondong hadir, lalu pulang dengan membawa tumpukan buku yang tidak sedikit.

Namun, di balik kecintaan mereka pada buku, ada satu fenomena yang kerap terjadi, yang dalam bahasa Jepang disebut Tsundoku. Tsundoku menggambarkan keadaan di mana seseorang memiliki atau menumpuk banyak buku, tetapi tidak pernah membacanya. Rak-rak buku yang penuh dengan halaman-halaman yang bertebaran, belum dirapikan atau bahkan belum pernah dibuka adalah pemandangan yang lazim di kalangan para kutu buku. Bahkan jika ditanya apakah mereka telah menyelesaikan semua buku yang mereka miliki, jawabannya hampir selalu tidak. Hal ini juga berlaku bagi saya. Ada buku-buku yang telah saya beli bertahun-tahun lalu, tetapi belum sempat saya baca hingga sekarang. Situasi serupa terjadi pula pada koleksi buku elektronik saya. Jika Anda melihat tangkapan layar e-book saya, Anda mungkin akan bertanya, "Berapa banyak buku yang sudah selesai dibaca?" Jawabannya, tentu saja, tidak semuanya.

Namun, apakah fenomena ini perlu dikhawatirkan? Saya berpendapat bahwa hal ini tidak perlu menjadi beban pikiran. Tidak ada yang salah dengan membeli buku yang pada akhirnya mungkin tidak akan dibaca, terutama apabila minat terhadap bacaan tersebut sudah memudar. Membeli buku, meskipun belum dibaca, adalah bagian dari proses belajar dan eksplorasi diri. Setiap buku yang kita beli, bahkan jika tidak kita baca, tetap memiliki makna. Mereka adalah refleksi dari minat kita pada saat itu, dan dengan memiliki buku-buku tersebut, kita belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri—tentang apa yang menarik perhatian kita dan apa yang mungkin tidak lagi relevan dengan minat kita saat ini.

Konsep ini dapat dihubungkan dengan gagasan "Anti-Library" yang diperkenalkan oleh Nassim Taleb dalam bukunya The Black Swan. Taleb mengisahkan tentang koleksi buku milik Umberto Eco, seorang penulis dan akademisi terkemuka yang memiliki perpustakaan pribadi dengan lebih dari 30.000 buku. Ketika orang-orang berkunjung ke rumahnya, mereka sering kali terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan bertanya, "Berapa banyak buku yang sudah Anda baca?" Sedangkan kelompok kedua, yang lebih sedikit jumlahnya, memahami bahwa perpustakaan pribadi bukanlah sekadar pajangan, melainkan alat untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui. Menurut Eco, perpustakaan idealnya berisi sebanyak mungkin hal-hal yang belum kita ketahui, sejauh kemampuan finansial kita memungkinkan. Seiring bertambahnya usia dan pengetahuan seseorang, tumpukan buku yang belum dibaca akan terus bertambah. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pula yang belum kita baca. Tumpukan buku ini dikenal sebagai "Anti-Library," sebuah pengingat akan luasnya pengetahuan yang belum kita selami.

Dalam konteks ini, Anti-Library adalah simbol dari potensi pengetahuan yang belum tergali. Buku-buku yang belum dibaca bukanlah beban, melainkan pengingat bahwa masih banyak dunia yang belum kita jelajahi. Semakin kita belajar, semakin kita menyadari betapa banyaknya hal yang belum kita ketahui. Dengan demikian, "Anti-Library" berfungsi sebagai pendorong untuk terus belajar dan membaca lebih banyak lagi, sebagai cara untuk memuaskan rasa ingin tahu yang terus berkembang.

Secara pribadi, saya menganggap koleksi buku yang belum (atau mungkin tidak akan pernah) saya baca sebagai bagian dari "Anti-Library" saya sendiri. Tentu saja, ada perdebatan mengenai apakah buku-buku yang sudah dibeli namun kemudian kehilangan daya tarik masih dapat dikategorikan sebagai bagian dari Anti-Library. Menurut saya, jawabannya adalah YA. Membeli buku adalah bagian dari proses mengenali minat kita. Terkadang, kita perlu mengetahui apa yang tidak kita sukai untuk benar-benar memahami apa yang kita sukai. Oleh karena itu, saya memilih untuk tetap menyimpan buku-buku yang saat ini mungkin tidak lagi menarik minat saya, karena melalui pengalaman ini, saya dapat lebih mengenali preferensi membaca saya secara mendalam.

Lalu, bagaimana cara membangun kebiasaan membaca yang konsisten dan menyenangkan? Saya percaya bahwa kuncinya adalah menjaga rutinitas. Bacalah setiap hari, bahkan jika itu hanya 10 halaman atau 100 halaman. Yang paling penting adalah konsistensi. Sama seperti membangun perpustakaan pribadi, membangun kebiasaan membaca adalah proses yang berkelanjutan. Mulailah dengan membuka buku setiap hari, dan dari sana, biarkan diri Anda terserap dalam kisah-kisah dan pengetahuan yang ditawarkan oleh setiap buku. Saya sendiri telah mencatat kebiasaan membaca saya secara teratur, dan hal ini sangat membantu dalam menjaga ritme serta semangat membaca yang konsisten.

Pada akhirnya, buku-buku yang belum dibaca, entah itu dalam bentuk fisik atau digital, bukanlah tanda kegagalan. Sebaliknya, mereka adalah bagian dari perjalanan kita sebagai pembaca dan pencari pengetahuan. Mereka adalah pengingat akan dunia yang luas dan tak terbatas, yang selalu menanti untuk dijelajahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bring The DIS (Democracy in School)

Jarang Bicara, Apakah Tanda Kurang Cerdas?

Jarang berbicara sering kali dianggap sebagai tanda kurangnya kecerdasan, tetapi anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Otak manusia memiliki area yang berhubungan dengan bahasa, seperti area Broca yang bertanggung jawab atas produksi bahasa dan area Wernicke yang mengatur pemahaman bahasa. Ketika seseorang jarang berbicara, area ini mungkin menjadi kurang aktif, tetapi hal itu tidak berarti otak kehilangan fungsinya atau kecerdasan seseorang menurun.  Dalam sejarah, banyak tokoh besar seperti Isaac Newton, Albert Einstein, dan Nikola Tesla dikenal sebagai pribadi yang pendiam. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir, merenung, dan menulis daripada berbicara. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang berbicara. Baca juga: Menaksir Usia Bumi dan Pembentukan Alam Semesta: Berapa Usia Bumi yang Tepat? Jarang berbicara tidak sama dengan tidak mampu berbicara. Orang yang memilih untuk lebih banyak diam sering kali sedang memprose...

Cara Sukses Mengembangkan Bisnis di Pasar Kompetitif

  Mengembangkan bisnis yang sukses memerlukan pemahaman mendalam mengenai pasar dan perilaku konsumen. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi target pasar, seperti pecinta kopi, pelajar, atau kalangan profesional. Kualitas produk juga harus menjadi prioritas utama. Anda dapat bekerja sama dengan petani lokal atau pemasok terpercaya, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk meningkatkan daya tarik produk. Di samping itu, membangun identitas merek yang kuat dan autentik, mulai dari desain kemasan hingga strategi promosi, merupakan langkah penting untuk membedakan bisnis Anda dari para kompetitor. Pengalaman pelanggan memainkan peran penting dalam keberhasilan sebuah bisnis. Menciptakan suasana kedai yang nyaman dan menarik dapat memberikan pengalaman berkesan bagi setiap pengunjung. Strategi pemasaran yang efektif juga sangat penting. Manfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan audiens, dan pertimbangkan untuk bekerja sama dengan influencer kopi guna men...

Mengapa Kita Menikmati Seni?

Musik adalah sesuatu yang saya gemari. Namun, apakah hal tersebut membuktikan bahwa saya benar-benar memahami musik? Belum tentu. Pada kenyataannya, sebagian besar dari kita mendengarkan musik bukan karena kita memiliki pemahaman yang mendalam tentang teori musik, progresi akor, atau melodi yang kompleks. Kita menikmatinya karena terdengar menyenangkan bagi telinga kita. Musik memiliki kemampuan untuk membangkitkan berbagai emosi—terkadang kegembiraan, kesedihan, atau semangat. Akan tetapi, apakah saya mampu menjelaskan secara terperinci mengapa sebuah lagu dapat menimbulkan perasaan tertentu, seperti membuat saya merinding? Mungkin tidak. Hal serupa terjadi dalam dunia seni rupa. Apakah kita perlu memahami teori seni untuk dapat mengapresiasi sebuah lukisan? Jawabannya tergantung pada tujuan masing-masing individu. Seperti layaknya musik, seni visual dapat dinikmati tanpa harus mengetahui secara mendalam proses penciptaannya. Namun, bagi mereka yang ingin memahami seni secara lebih me...

Ritme Waktu: Mengapa Kita Merasa Waktu Berjalan Cepat atau Lambat?

Relativitas Waktu dalam Kehidupan Sehari-hari Konsep bahwa waktu bisa terasa cepat atau lambat sebenarnya sudah lama diungkapkan oleh ilmuwan besar, Albert Einstein, pada awal abad ke-20. Einstein tidak melihat ruang dan waktu sebagai sesuatu yang tetap, melainkan sebagai fenomena yang fleksibel, relatif, dan dinamis—seperti semua proses lain di alam semesta. Menurut Michael Turner, Direktur Institut Kavli untuk Fisika Kosmologis, pemahaman ini adalah inti dari relativitas. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa merasakannya juga. Pernah merasakan betapa cepat waktu berlalu saat kamu kencan dengan si dia? Satu jam bisa terasa seperti lima menit. Tapi sebaliknya, coba duduk dalam rapat panjang dengan bos yang cerewet, waktu berjalan lambat seperti siput. Ini sebabnya banyak dari kita merasa menunggu tanggal libur terasa jauh lebih lama dibanding saat uang gajian terkuras untuk membayar tagihan. Karena pengalaman emosional kita mempengaruhi persepsi waktu—kita selalu berharap...

Puisi Politik: Adam dan Korupsi

Jerit kami. Energi kami. Usia kami. Darah kami. Ilmu kami. Dalam lari. Dada yang tak tertahan lagi. Isak dendam yang terpendam. Dari kelam ke malam. Pemimpin ini: Sungguh besar baiknya. Menerka korupsi tak terkira. Yang benar adanya. Meluluskan segala cara. Dalam gelap gulita malam. Dana yang tercuri. Melebihi besarnya kekayaan Adam. Adakah yang sejauh ini?

Menerima Diri dan Berkembang: Cara Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Janganlah pernah menganggap diri sebagai seorang pecundang. Hentikan pola pikir seperti itu dan mulailah menerima diri dengan sepenuh hati. Penerimaan diri bukan cerminan kelemahan atau bentuk penyerahan, melainkan sebuah kesadaran yang mendalam tentang keunikan dan kekuatan pribadi. Alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus pada upaya peningkatan dan perkembangan diri sendiri. Perlu diingat, meskipun terkadang terasa harus berusaha lebih keras, hal ini bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani. Jika merasa memerlukan perubahan, mulailah dengan memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik. Berdirilah di depan cermin, lihat diri dengan penuh kesadaran, dan katakan dengan keyakinan, "Saya bukan pecundang." Amati setiap detail dari wajah—mata, hidung, bibir, dan bagian lainnya. Apabila hal ini membuat tersentuh hingga menangis, biarkan saja, karena itu bagian dari proses penerimaan diri. Setelah itu...

Puisi Filosofis: Antara Akal dan Logika

Akal dan berdasarkan fakta mungkin diabaikan. Bergantung pada apakah mempercayai logika atau tidak. Ketidakstabilan tanpa mempertimbangkan. Akal merupakan pertarungan kehendak: Negosiasi adalah proses tawar-menawar terus menerus hingga mencapai kesepakatan. Dengan menunjukkan kemampuan yang terbaik. Penawaran, akan mengalah demi segera mendapat jawaban. Berbeda seratus delapan puluh derajat. Sedang logika, itu menyalahi hukum penawaran. Pertimbangkan dengan baik apakah cara ini diperlukan atau tidak.

Manusia dan Pengaruh Lingkungan terhadap Perilaku

Sering kali, respons kita terhadap orang lain dipengaruhi oleh bagaimana mereka memperlakukan kita. Ketika kita berhadapan dengan seseorang yang sangat baik, secara otomatis kita merasa terdorong untuk membalas kebaikan itu. Entah secara langsung atau tidak langsung, kita merasa perlu menyesuaikan sikap kita dengan perlakuan baik tersebut. Namun, sebaliknya, jika orang lain tidak bersikap baik kepada kita, sering kali kita juga cenderung merespons dengan sikap yang serupa. Hal ini menunjukkan betapa hati manusia mudah terpengaruh oleh faktor eksternal, terutama bagaimana orang di sekitar memperlakukan kita. Bahkan ketika perubahan hati itu timbul dari diri kita sendiri, sering kali keputusan untuk berubah juga dipicu oleh pengaruh orang lain. Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana manusia, sebagai makhluk berakal budi, secara tidak sadar sudah memiliki kemampuan untuk merasakan dan menilai perasaan orang lain. Sejak kecil, kita diajarkan untuk berbuat baik, seperti mel...

Puisi Filosofis: Nelayan di Dermaga

Di tengah ramainya nada penjual ikan berkumandang. Nelayan terbadai dari tangkapannya. Ada kata-kata tentang. Baju necis kaku miliknya. Susunan kata itu: Kulantunkan saat bertemu dengan nelayan kampung. Dan kecupan di atas sekian buku. Sungguh, wajah masammu terbenam bayang-bayang. Sendal berjalan di atas lautan kabut. Bertelanjang dada, berkulit hitam, berwajah tua. Mengabaikan maut! Menuju panas-dingin cuaca. Tarik, pancing terus! Hembusan angin mengiringi. Tak ada satupun yang bisa. mendengarkan. Jerit lelah kami. Oh, indahnya negeriku ini.