Langsung ke konten utama

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Mengapa Membeli Buku Tapi Jarang Membacanya Adalah Hal yang Wajar?


Sebagai seorang pencinta buku, saya memiliki kebiasaan yang mungkin terdengar familiar bagi banyak kutu buku lainnya: membeli buku dalam jumlah banyak, namun jarang menyelesaikannya. Kebiasaan ini sering kali melahirkan penyesalan terhadap buku-buku yang akhirnya terabaikan begitu saja, tak tersentuh oleh halaman demi halaman yang semestinya dijelajahi. Namun demikian, sebagai seseorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam dunia literasi, saya tidak menganggap pembelian buku secara berlebihan sebagai hal yang perlu disesali. Banyak pembaca yang saya kenal menunjukkan kecenderungan serupa, yakni membeli lebih banyak buku daripada yang mereka sempat baca. Fenomena ini tidak perlu menjadi alasan kekhawatiran, karena tampaknya hal ini merupakan sesuatu yang umum terjadi di kalangan para pencinta literasi.

Bagi seorang kutu buku, buku adalah segalanya. Ia bukan hanya sekadar barang yang dibeli untuk dipajang, tetapi juga teman setia di waktu senggang, hiburan yang menyenangkan, dan sebuah pintu gerbang menuju dunia-dunia baru yang tak terbatas. "Para kutu buku, pencinta bacaan sejati, seumur hidupnya mengumpulkan koleksi perpustakaan berharga. Mereka adalah sosok yang rela mengeluarkan biaya besar demi buku-buku yang akan menyita waktu berjam-jam, semata untuk belajar dan memahami lebih dalam, tanpa terganggu kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya," demikianlah gambaran umum para pencinta buku sejati. Mereka adalah sosok yang rela menghabiskan waktu dan uang demi menambah koleksi, baik itu berupa buku-buku keluaran terbaru maupun buku-buku langka yang telah lama diincar. Ketika ada pameran atau bazar buku, mereka berbondong-bondong hadir, lalu pulang dengan membawa tumpukan buku yang tidak sedikit.

Namun, di balik kecintaan mereka pada buku, ada satu fenomena yang kerap terjadi, yang dalam bahasa Jepang disebut Tsundoku. Tsundoku menggambarkan keadaan di mana seseorang memiliki atau menumpuk banyak buku, tetapi tidak pernah membacanya. Rak-rak buku yang penuh dengan halaman-halaman yang bertebaran, belum dirapikan atau bahkan belum pernah dibuka adalah pemandangan yang lazim di kalangan para kutu buku. Bahkan jika ditanya apakah mereka telah menyelesaikan semua buku yang mereka miliki, jawabannya hampir selalu tidak. Hal ini juga berlaku bagi saya. Ada buku-buku yang telah saya beli bertahun-tahun lalu, tetapi belum sempat saya baca hingga sekarang. Situasi serupa terjadi pula pada koleksi buku elektronik saya. Jika Anda melihat tangkapan layar e-book saya, Anda mungkin akan bertanya, "Berapa banyak buku yang sudah selesai dibaca?" Jawabannya, tentu saja, tidak semuanya.

Namun, apakah fenomena ini perlu dikhawatirkan? Saya berpendapat bahwa hal ini tidak perlu menjadi beban pikiran. Tidak ada yang salah dengan membeli buku yang pada akhirnya mungkin tidak akan dibaca, terutama apabila minat terhadap bacaan tersebut sudah memudar. Membeli buku, meskipun belum dibaca, adalah bagian dari proses belajar dan eksplorasi diri. Setiap buku yang kita beli, bahkan jika tidak kita baca, tetap memiliki makna. Mereka adalah refleksi dari minat kita pada saat itu, dan dengan memiliki buku-buku tersebut, kita belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri—tentang apa yang menarik perhatian kita dan apa yang mungkin tidak lagi relevan dengan minat kita saat ini.

Konsep ini dapat dihubungkan dengan gagasan "Anti-Library" yang diperkenalkan oleh Nassim Taleb dalam bukunya The Black Swan. Taleb mengisahkan tentang koleksi buku milik Umberto Eco, seorang penulis dan akademisi terkemuka yang memiliki perpustakaan pribadi dengan lebih dari 30.000 buku. Ketika orang-orang berkunjung ke rumahnya, mereka sering kali terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan bertanya, "Berapa banyak buku yang sudah Anda baca?" Sedangkan kelompok kedua, yang lebih sedikit jumlahnya, memahami bahwa perpustakaan pribadi bukanlah sekadar pajangan, melainkan alat untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui. Menurut Eco, perpustakaan idealnya berisi sebanyak mungkin hal-hal yang belum kita ketahui, sejauh kemampuan finansial kita memungkinkan. Seiring bertambahnya usia dan pengetahuan seseorang, tumpukan buku yang belum dibaca akan terus bertambah. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pula yang belum kita baca. Tumpukan buku ini dikenal sebagai "Anti-Library," sebuah pengingat akan luasnya pengetahuan yang belum kita selami.

Dalam konteks ini, Anti-Library adalah simbol dari potensi pengetahuan yang belum tergali. Buku-buku yang belum dibaca bukanlah beban, melainkan pengingat bahwa masih banyak dunia yang belum kita jelajahi. Semakin kita belajar, semakin kita menyadari betapa banyaknya hal yang belum kita ketahui. Dengan demikian, "Anti-Library" berfungsi sebagai pendorong untuk terus belajar dan membaca lebih banyak lagi, sebagai cara untuk memuaskan rasa ingin tahu yang terus berkembang.

Secara pribadi, saya menganggap koleksi buku yang belum (atau mungkin tidak akan pernah) saya baca sebagai bagian dari "Anti-Library" saya sendiri. Tentu saja, ada perdebatan mengenai apakah buku-buku yang sudah dibeli namun kemudian kehilangan daya tarik masih dapat dikategorikan sebagai bagian dari Anti-Library. Menurut saya, jawabannya adalah YA. Membeli buku adalah bagian dari proses mengenali minat kita. Terkadang, kita perlu mengetahui apa yang tidak kita sukai untuk benar-benar memahami apa yang kita sukai. Oleh karena itu, saya memilih untuk tetap menyimpan buku-buku yang saat ini mungkin tidak lagi menarik minat saya, karena melalui pengalaman ini, saya dapat lebih mengenali preferensi membaca saya secara mendalam.

Lalu, bagaimana cara membangun kebiasaan membaca yang konsisten dan menyenangkan? Saya percaya bahwa kuncinya adalah menjaga rutinitas. Bacalah setiap hari, bahkan jika itu hanya 10 halaman atau 100 halaman. Yang paling penting adalah konsistensi. Sama seperti membangun perpustakaan pribadi, membangun kebiasaan membaca adalah proses yang berkelanjutan. Mulailah dengan membuka buku setiap hari, dan dari sana, biarkan diri Anda terserap dalam kisah-kisah dan pengetahuan yang ditawarkan oleh setiap buku. Saya sendiri telah mencatat kebiasaan membaca saya secara teratur, dan hal ini sangat membantu dalam menjaga ritme serta semangat membaca yang konsisten.

Pada akhirnya, buku-buku yang belum dibaca, entah itu dalam bentuk fisik atau digital, bukanlah tanda kegagalan. Sebaliknya, mereka adalah bagian dari perjalanan kita sebagai pembaca dan pencari pengetahuan. Mereka adalah pengingat akan dunia yang luas dan tak terbatas, yang selalu menanti untuk dijelajahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Eksperimental: Teknologi

Bukan tak ada risiko. Yang tersimpan dalam botol jin. Dengan ilmu tekno. Orang yang sudah membikin mesin. Itu adalah kemunafikan semata. Menjeratku agar aku mau menjadi orang yang kuno. Mencari bola yang seharusnya ada. Di warung­-warung dan toko­-toko. Aku bilang tinggalkan aku sendiri. Tanda keseriusan keadaan. Terperangkap di dalam galeri. Lantang tentang keberhasilan.

Kematian: Ya Udah, Santai Aja!

Mengapa banyak orang merasa takut terhadap kematian? Sederhananya, konsep mereka tentang kematian sering kali terbalik. Kematian seharusnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Ketika nafas terakhir kita keluar, tubuh ini hanyalah sebuah benda yang sudah tak berfungsi lagi—tak ada lagi gunanya. Mengenai roh atau jiwa, siapa yang dapat memastikan kemana mereka pergi setelahnya? Hingga saat ini, belum ada yang pernah kembali untuk menceritakan hal tersebut. Mungkin ketakutan ini timbul karena sejak kecil kita telah diperkenalkan dengan konsep surga dan neraka. Surga dan neraka merupakan konsep yang berfungsi sebagai pengingat agar kita menjalani hidup dengan benar. Tentu saja, hal ini penting. Namun, setelah kematian, apakah ada bukti nyata yang dapat menjelaskan ke mana roh atau jiwa kita pergi? Hingga saat ini, belum ada bukti yang jelas. Maka dari itu, apakah ketakutan akan kematian tersebut memang relevan? Bukankah pada akhirnya ketakutan tersebut bisa jadi tidak berarti? K...

Menaksir Usia Bumi dan Pembentukan Alam Semesta: Berapa Usia Bumi yang Tepat?

  Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menaksir usia seseorang melalui pengamatan terhadap penampilan fisiknya. Misalnya, ketika kita melihat seorang siswa mengenakan seragam sekolah putih abu-abu, kita dapat memperkirakan usianya berkisar antara 15 hingga 17 tahun. Begitu pula, ketika kita melihat seseorang dengan rambut memutih dan kulit yang mulai berkeriput, kita mungkin memperkirakan usianya lebih dari 60 tahun. Pengamatan terhadap ciri-ciri fisik ini menjadi dasar dalam menaksir usia seseorang. Baca juga: Depresi di Balik Guyonan: Ketika Tawa Menjadi Topeng Kesedihan Prinsip yang serupa juga digunakan ketika para ilmuwan berusaha memperkirakan usia Bumi. Namun, alih-alih memeriksa penampilan manusia, mereka meneliti "penampilan fisik" Bumi, yaitu batuan-batuan yang menyusun lapisan-lapisan geologisnya. Para ahli geologi melakukan eksplorasi untuk menemukan batuan tertua yang ada di Bumi. Penelitian terhadap batuan-batuan ini mengungkap bahwa beberapa di antaranya be...

Puisi Eksperimental: Kecanggihan

Sejauh ini cukup baik. Saya mendiskusikan gagasan. Sehingga mesin itu memanfaatkan yang terbaik. Kecanggihannya sedemikian. Perbedaan antara robot dan manusia. Seandainya manusia dapat bersabar. Mungkin bisa cangkir itu terisinya. Seluruhnya menjadikan pagar-pagar. Seluas mata. Orang yang tidak pernah mengatakan tidak saat dimintai sesuatu. Kuharapkan kami telah mencapai karimata. Mengambil sisa uang gajiku.

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Bring The DIS (Democracy in School)

Puisi Filosofis: Manusia Tidak Akan Pernah Terlambat

Di pelataran dunia nanti. Kami mengejar larinya silih berganti. Yang terbaik. Akan bercahaya dijubahi. Yang terburuk. Akan berdosa ditutupi. Maju---mundur berdesakan. Tiada waktu baginya saling berkenalan. Dahulu ada manusia yang begitu saling berbaikan. Namun, diakhiri dengan kejahatan.  Sungguh, kecewa jika pergi dengan harta. Pulang dengan noda di dada. Tidak memiliki manfaat. Terlebih lagi untuk dimakamkan ke dalam liang lahat.

Sikap Kurang Peduli: Akibat dari Rasa Aman dalam Sistem Sosial?

  Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering menemui keluhan mengenai perilaku yang kurang menghargai lingkungan atau suara bising yang mengganggu. Fenomena ini dapat terjadi di berbagai daerah, termasuk di Jawa, di mana perbedaan latar belakang dan kebiasaan sosial dapat mempengaruhi cara seseorang berperilaku. Tidak dapat dipungkiri bahwa perekonomian di Jawa lebih berkembang, dan banyak kebijakan pemerintah yang berfokus pada daerah tersebut. Hal ini mungkin membuat sebagian orang merasa lebih nyaman atau "aman" dalam bertindak, meskipun tindakan tersebut bisa saja mempengaruhi kenyamanan orang lain. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang dari Jawa menunjukkan perilaku seperti itu. Banyak juga yang sangat menghargai norma-norma setempat ketika mereka berada di daerah lain. Hanya saja, ada sebagian kecil yang terkadang tampak kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Ini bisa muncul karena mereka merasa sudah memiliki "tempat" yang aman dalam sistem...

Puisi Politik: Kebijakan

Waktu berlalu. Dan urusan pemerintahan berubah cepat sekali. Bukankah kehidupan di dunia ini hanya sesederhana itu. Siang itu juga riuh pemilu menyuruh Kakak pulang kembali. Namun ada pula, Fanatik berlebihan. Yang sedikit berbeda. Hanya soal bagaimana mereka menunjukkan. Beberapa memuji pejabat karena menepati janjinya. Aku rasa, mengapa memuji pejabat karena janjinya. Itu adalah janji mereka. Tentu sebuah kewajiban bagi mereka. Kemudian ada seseorang berkata padaku, Kalian tidak perlu menunggu janji, tidak perlu. Tertawa. Serombongan tertawa mendengar gurauan itu. Kalau saja tidak ada yang memperhatikan. Aku akan membuatnya seperti kejadian Maxim Ratniuk dan Vadym Ursu. Tentu saja ia tahu. Pengucapan manusia-manusia itu sungguh menembus batas-batas akal sehat. Aku mencintai negeriku.

Bagaimana Cara Tetap Termotivasi Saat Semangat Anda Memudar?

Terkadang, kita merasa sangat semangat ketika menemukan hal baru, seperti ketika pertama kali bertemu dengan aplikasi Memrise. Awalnya, aplikasi ini begitu menarik. Kita merasa senang bisa belajar bahasa baru, seperti Jerman, Prancis, dan Jepang. Kosakata baru yang didapat setiap hari membuat kita merasa puas dan percaya diri. Di awal, kita merasa seolah-olah bisa menguasai bahasa dengan cepat, mungkin bahkan seakan kita sudah setara dengan penutur asli. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa semangat itu mulai pudar. Setelah seminggu, kita mulai merasa bosan, dan hanya membuka aplikasi tersebut untuk sekedar menambah poin harian. Lama kelamaan, rasa bosan semakin mendalam dan kita mulai merasa kosakata yang kita pelajari tidak terlalu bermanfaat lagi. Mengapa hal ini terjadi? Salah satunya mungkin karena efek Dunning-Kruger. Pada tahap pertama, kita merasa percaya diri yang tinggi karena baru mulai belajar sesuatu yang baru dan merasa ilmu yang kita peroleh sangat bermanfaat. Namun, s...