Langsung ke konten utama

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Strategi Efektif untuk Mengatasi Overthinking: Pengalaman dan Tips Pribadi

 



Pada masa lalu, saya sering mengalami overthinking, yaitu kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi atau berlarut-larut dalam kecemasan. Stres sering kali timbul setiap kali saya menerima kritik atau komentar negatif dari orang lain. Kekhawatiran ini semakin meningkat ketika saya merasa tidak mampu mencapai kesempurnaan dalam berbagai aspek kehidupan. Lebih menyulitkan lagi, saya cenderung menyimpan kegelisahan ini sendiri tanpa berbagi dengan orang lain. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa overthinking lebih sering dialami oleh individu yang cenderung introver. Sebaliknya, individu dengan kepribadian ekstrover cenderung lebih jarang menghadapi kecemasan berlebihan tersebut.


Meskipun demikian, overthinking bukanlah sesuatu yang tidak dapat diatasi. Terdapat berbagai langkah yang dapat diambil untuk mengurangi kebiasaan berpikir berlebihan, khususnya bagi mereka yang memiliki kecenderungan introver. Berikut adalah beberapa metode yang telah saya terapkan untuk mengatasi overthinking:


1. Menyerahkan Segala Urusan kepada Tuhan yang Maha Esa


Langkah pertama yang penting dilakukan adalah menyerahkan segala urusan kepada Tuhan. Apa pun yang telah terjadi, hendaknya diterima dengan ikhlas dan sabar, serta diyakini bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan dengan sempurna. Keyakinan ini dapat mengurangi kecemasan, karena kita menyadari bahwa setiap peristiwa merupakan bagian dari rencana-Nya yang terbaik. Dengan menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya, kita dapat melepaskan beban pikiran yang berlebihan.


2. Menghindari Kebiasaan Melamun yang Berlebihan


Salah satu faktor utama pemicu overthinking adalah kebiasaan melamun dan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk fokus pada hal-hal yang nyata dan produktif. Melamun secara berlebihan hanya akan memperburuk kecemasan dan menyebabkan kita terjebak dalam prasangka yang tidak diperlukan. Setiap kali merasa terjebak dalam lamunan, ingatkan diri dengan pertanyaan, "Apa yang bisa saya lakukan untuk menghilangkan kebiasaan berpikir berlebihan ini?" Pertanyaan ini akan membantu kita kembali fokus pada hal-hal yang lebih produktif.


3. Melakukan Kegiatan yang Bermanfaat


Mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat sangat efektif untuk mengurangi overthinking. Ketika kita sibuk dengan aktivitas yang produktif, pikiran kita tidak akan memiliki banyak ruang untuk memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Selain itu, kegiatan yang bermanfaat juga dapat membantu kita mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.


4. Mengalihkan Diri pada Aktivitas yang Menyenangkan


Dalam beberapa situasi, mengalihkan perhatian dari hal-hal yang memicu stres dapat menjadi solusi yang efektif. Temukan kegiatan yang menyenangkan dan mampu menghibur hati. Aktivitas seperti menonton film, mendengarkan musik, membaca buku, atau berkumpul dengan teman-teman yang membawa energi positif dapat membantu meredakan pikiran yang berlebihan. Kegiatan yang menyenangkan tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membantu kita untuk lebih rileks dan santai.


5. Menuliskan Pikiran yang Mengganggu


Jika overthinking terus menghantui, cobalah menuliskan segala kekhawatiran di atas kertas. Setelah menuliskannya, sobek atau bakar kertas tersebut sebagai simbol melepaskan beban pikiran. Dengan menuliskan pikiran, kita dapat memperoleh perspektif yang lebih jelas dan terstruktur, sehingga lebih mudah untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Menuliskan pikiran juga membantu kita melihat permasalahan dari sudut pandang yang lebih objektif.


6. Membaca Buku atau Mempelajari Hal Baru yang Menambah Wawasan


Salah satu cara yang baik untuk mengalihkan pikiran dari overthinking adalah dengan membaca buku atau mempelajari sesuatu yang baru. Pilihlah bacaan yang bermanfaat dan dapat memperkaya wawasan Anda. Dengan meningkatkan pengetahuan, kita akan lebih terfokus pada hal-hal positif yang membangun, sehingga overthinking dapat diminimalisir. Membaca buku yang inspiratif juga dapat memberikan pandangan baru tentang cara menghadapi kehidupan dengan lebih bijaksana.


7. Berlapang Hati dan Tersenyum


Menjalani hidup dengan sikap lapang hati serta kebiasaan tersenyum dapat membantu kita menghadapi berbagai situasi dengan lebih positif. Berusaha menerima setiap keadaan dengan hati yang lapang akan memudahkan kita untuk melepaskan beban pikiran. Tersenyum, meskipun sederhana, dapat memberikan dampak positif pada suasana hati dan membantu kita merasa lebih tenang. Terkadang, tindakan kecil seperti tersenyum mampu mengubah cara pandang kita terhadap suatu masalah.


8. Mengurangi Sifat Introver dengan Menekuni Aktivitas Ekstrover


Salah satu metode yang sangat efektif bagi saya adalah dengan mengurangi sisi introver melalui aktivitas atau pekerjaan yang lebih sering dilakukan oleh orang ekstrover. Sebagai contoh, saya secara sengaja memilih berprofesi di bidang penjualan, yang mengharuskan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang. Pada awalnya, saya merasa tidak nyaman dengan pekerjaan ini. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai beradaptasi dan menemukan berbagai manfaat.


Salah satu keuntungan dari pekerjaan ini adalah saya menjadi lebih 'cuek' terhadap komentar negatif dari orang lain. Sebagai seorang marketer, saya dituntut untuk tidak terlalu memedulikan pandangan orang lain jika ingin mencapai target penjualan. Sikap ini kemudian terbawa dalam kehidupan sehari-hari saya, yang pada akhirnya membantu mengurangi overthinking. Dengan bertemu banyak orang, saya juga belajar untuk lebih terbuka dan mengurangi kecenderungan untuk terlalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu.


9. Menceritakan Prasangka kepada Orang yang Bijaksana


Ketika kita merasa khawatir atau memiliki prasangka buruk, sangat membantu untuk berbagi cerita dengan seseorang yang bijaksana. Saya pernah mengalami situasi di mana seorang teman menyebut saya "aneh" di belakang saya, yang membuat saya merasa tidak nyaman dan berprasangka bahwa dia membenci saya. Setelah menceritakan hal ini kepada seorang sahabat yang bijaksana, saya mendapatkan perspektif baru yang membantu menenangkan pikiran. Sahabat saya menyarankan agar tidak terlalu memikirkan komentar tersebut, karena orang tersebut memang cenderung suka mengomentari orang lain secara negatif tanpa alasan yang jelas.


10. Menghilangkan Pemikiran "Harus Sempurna"


Pemikiran bahwa kita harus selalu sempurna sering kali menjadi pemicu utama overthinking dan stres. Memiliki standar tinggi memang penting, tetapi memaksakan diri untuk selalu sempurna dapat menyebabkan kekecewaan yang mendalam, bahkan depresi, ketika harapan tersebut tidak tercapai. Pendekatan yang lebih bijak adalah menggantikan pemikiran "harus sempurna" dengan prinsip "berusaha maksimal, namun menyerahkan hasilnya kepada Tuhan." Manusia hanya bisa berusaha, namun hasilnya tetap berada di tangan Tuhan. Apa pun hasilnya, yakinlah bahwa itulah yang terbaik dari-Nya. Dengan demikian, kita dapat melepaskan beban mental yang diakibatkan oleh tuntutan kesempurnaan.


11. Fokus pada Kelebihan Diri


Overthinking sering kali muncul dari rasa rendah diri akibat komentar negatif orang lain. Untuk mengatasi hal ini, cobalah fokus pada kelebihan yang Anda miliki, yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Misalnya, jika seseorang menganggap Anda tidak kompeten, ingatlah bahwa Anda mungkin memiliki kelebihan lain, seperti penghasilan yang lebih besar atau kemampuan khusus. Dengan demikian, kita akan lebih mudah menerima bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan setiap individu memiliki kekurangan serta kelebihan masing-masing. Berfokus pada kelebihan diri akan membantu kita membangun rasa percaya diri dan mengurangi dampak negatif dari komentar orang lain.


12. Tidak Terlalu Menyesali Kesalahan


Kesalahan adalah bagian dari sifat manusia. Terlalu menyesali kesalahan yang telah dilakukan hanya akan membuat kita terjebak dalam overthinking. Sebaliknya, terimalah kesalahan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan gunakan pengalaman tersebut untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Dengan menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan tempatnya salah, kita akan lebih mudah memaafkan diri sendiri dan melanjutkan hidup. Belajar dari kesalahan adalah langkah penting untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih dewasa.


Demikianlah beberapa metode yang saya terapkan dalam mengatasi overthinking. Setiap individu mungkin memiliki pendekatan yang berbeda dalam menghadapi permasalahan ini, tetapi yang terpenting adalah tidak mudah menyerah dan terus berupaya memperbaiki diri. Ingatlah bahwa overthinking hanya akan menguras energi dan waktu yang berharga. Saya mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penjelasan ini, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam mengatasi overthinking.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Eksperimental: Teknologi

Bukan tak ada risiko. Yang tersimpan dalam botol jin. Dengan ilmu tekno. Orang yang sudah membikin mesin. Itu adalah kemunafikan semata. Menjeratku agar aku mau menjadi orang yang kuno. Mencari bola yang seharusnya ada. Di warung­-warung dan toko­-toko. Aku bilang tinggalkan aku sendiri. Tanda keseriusan keadaan. Terperangkap di dalam galeri. Lantang tentang keberhasilan.

Kematian: Ya Udah, Santai Aja!

Mengapa banyak orang merasa takut terhadap kematian? Sederhananya, konsep mereka tentang kematian sering kali terbalik. Kematian seharusnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Ketika nafas terakhir kita keluar, tubuh ini hanyalah sebuah benda yang sudah tak berfungsi lagi—tak ada lagi gunanya. Mengenai roh atau jiwa, siapa yang dapat memastikan kemana mereka pergi setelahnya? Hingga saat ini, belum ada yang pernah kembali untuk menceritakan hal tersebut. Mungkin ketakutan ini timbul karena sejak kecil kita telah diperkenalkan dengan konsep surga dan neraka. Surga dan neraka merupakan konsep yang berfungsi sebagai pengingat agar kita menjalani hidup dengan benar. Tentu saja, hal ini penting. Namun, setelah kematian, apakah ada bukti nyata yang dapat menjelaskan ke mana roh atau jiwa kita pergi? Hingga saat ini, belum ada bukti yang jelas. Maka dari itu, apakah ketakutan akan kematian tersebut memang relevan? Bukankah pada akhirnya ketakutan tersebut bisa jadi tidak berarti? K...

Menaksir Usia Bumi dan Pembentukan Alam Semesta: Berapa Usia Bumi yang Tepat?

  Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menaksir usia seseorang melalui pengamatan terhadap penampilan fisiknya. Misalnya, ketika kita melihat seorang siswa mengenakan seragam sekolah putih abu-abu, kita dapat memperkirakan usianya berkisar antara 15 hingga 17 tahun. Begitu pula, ketika kita melihat seseorang dengan rambut memutih dan kulit yang mulai berkeriput, kita mungkin memperkirakan usianya lebih dari 60 tahun. Pengamatan terhadap ciri-ciri fisik ini menjadi dasar dalam menaksir usia seseorang. Baca juga: Depresi di Balik Guyonan: Ketika Tawa Menjadi Topeng Kesedihan Prinsip yang serupa juga digunakan ketika para ilmuwan berusaha memperkirakan usia Bumi. Namun, alih-alih memeriksa penampilan manusia, mereka meneliti "penampilan fisik" Bumi, yaitu batuan-batuan yang menyusun lapisan-lapisan geologisnya. Para ahli geologi melakukan eksplorasi untuk menemukan batuan tertua yang ada di Bumi. Penelitian terhadap batuan-batuan ini mengungkap bahwa beberapa di antaranya be...

Puisi Eksperimental: Kecanggihan

Sejauh ini cukup baik. Saya mendiskusikan gagasan. Sehingga mesin itu memanfaatkan yang terbaik. Kecanggihannya sedemikian. Perbedaan antara robot dan manusia. Seandainya manusia dapat bersabar. Mungkin bisa cangkir itu terisinya. Seluruhnya menjadikan pagar-pagar. Seluas mata. Orang yang tidak pernah mengatakan tidak saat dimintai sesuatu. Kuharapkan kami telah mencapai karimata. Mengambil sisa uang gajiku.

Grand Finale: Top 8 Finalists of NextGen Digital Impact Competition 2026 by Monash University, Indonesia

Grateful to be part of the NextGen Digital Impact Competition 2026 organized by Monash University, Indonesia.  Being selected as one of the Top 8 finalists was a valuable opportunity to explore how technology, research, and innovation can contribute to solving real-world challenges.  Through this journey, I had the chance to develop and present an AI-driven environmental technology proposal focused on leveraging satellite imagery, IoT, autonomous systems, and predictive AI for forest monitoring and prevention.  Thank you to the organizers, mentors, judges, and fellow participants for creating an inspiring environment for young digital talents. Looking forward to continuing the journey of learning, building, and creating meaningful impact through technology. Source:  https://www.monash.edu/indonesia/news/strengthen-young-digital-talent-through-nextgen-digital-impact-competition https://www.monash.edu/indonesia/news/road-to-grand-finale-top-8-finalists-of-nextgen-digit...

Bring The DIS (Democracy in School)

Puisi Filosofis: Manusia Tidak Akan Pernah Terlambat

Di pelataran dunia nanti. Kami mengejar larinya silih berganti. Yang terbaik. Akan bercahaya dijubahi. Yang terburuk. Akan berdosa ditutupi. Maju---mundur berdesakan. Tiada waktu baginya saling berkenalan. Dahulu ada manusia yang begitu saling berbaikan. Namun, diakhiri dengan kejahatan.  Sungguh, kecewa jika pergi dengan harta. Pulang dengan noda di dada. Tidak memiliki manfaat. Terlebih lagi untuk dimakamkan ke dalam liang lahat.

Sikap Kurang Peduli: Akibat dari Rasa Aman dalam Sistem Sosial?

  Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering menemui keluhan mengenai perilaku yang kurang menghargai lingkungan atau suara bising yang mengganggu. Fenomena ini dapat terjadi di berbagai daerah, termasuk di Jawa, di mana perbedaan latar belakang dan kebiasaan sosial dapat mempengaruhi cara seseorang berperilaku. Tidak dapat dipungkiri bahwa perekonomian di Jawa lebih berkembang, dan banyak kebijakan pemerintah yang berfokus pada daerah tersebut. Hal ini mungkin membuat sebagian orang merasa lebih nyaman atau "aman" dalam bertindak, meskipun tindakan tersebut bisa saja mempengaruhi kenyamanan orang lain. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang dari Jawa menunjukkan perilaku seperti itu. Banyak juga yang sangat menghargai norma-norma setempat ketika mereka berada di daerah lain. Hanya saja, ada sebagian kecil yang terkadang tampak kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Ini bisa muncul karena mereka merasa sudah memiliki "tempat" yang aman dalam sistem...

Puisi Politik: Kebijakan

Waktu berlalu. Dan urusan pemerintahan berubah cepat sekali. Bukankah kehidupan di dunia ini hanya sesederhana itu. Siang itu juga riuh pemilu menyuruh Kakak pulang kembali. Namun ada pula, Fanatik berlebihan. Yang sedikit berbeda. Hanya soal bagaimana mereka menunjukkan. Beberapa memuji pejabat karena menepati janjinya. Aku rasa, mengapa memuji pejabat karena janjinya. Itu adalah janji mereka. Tentu sebuah kewajiban bagi mereka. Kemudian ada seseorang berkata padaku, Kalian tidak perlu menunggu janji, tidak perlu. Tertawa. Serombongan tertawa mendengar gurauan itu. Kalau saja tidak ada yang memperhatikan. Aku akan membuatnya seperti kejadian Maxim Ratniuk dan Vadym Ursu. Tentu saja ia tahu. Pengucapan manusia-manusia itu sungguh menembus batas-batas akal sehat. Aku mencintai negeriku.

Bagaimana Cara Tetap Termotivasi Saat Semangat Anda Memudar?

Terkadang, kita merasa sangat semangat ketika menemukan hal baru, seperti ketika pertama kali bertemu dengan aplikasi Memrise. Awalnya, aplikasi ini begitu menarik. Kita merasa senang bisa belajar bahasa baru, seperti Jerman, Prancis, dan Jepang. Kosakata baru yang didapat setiap hari membuat kita merasa puas dan percaya diri. Di awal, kita merasa seolah-olah bisa menguasai bahasa dengan cepat, mungkin bahkan seakan kita sudah setara dengan penutur asli. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa semangat itu mulai pudar. Setelah seminggu, kita mulai merasa bosan, dan hanya membuka aplikasi tersebut untuk sekedar menambah poin harian. Lama kelamaan, rasa bosan semakin mendalam dan kita mulai merasa kosakata yang kita pelajari tidak terlalu bermanfaat lagi. Mengapa hal ini terjadi? Salah satunya mungkin karena efek Dunning-Kruger. Pada tahap pertama, kita merasa percaya diri yang tinggi karena baru mulai belajar sesuatu yang baru dan merasa ilmu yang kita peroleh sangat bermanfaat. Namun, s...