Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Kau, Aku, dan Telaga Warna

Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata.   “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.”   Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu.   Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...

Puisi Cinta: Mabuk

Aku kalau galau, bisa mandi sambil menangis di bawah pancuran. Kamar mandi shower juga rawan hantu. Pun, kamar mandi gayung jarang penampakan. Tetapi kalau bertamu. Ada makhluk yang melakukan perkawinan. Dengan gen luar ras unggul. Manusia ingin menguji kesetiaan. Penjara atau dijadikan tanggul. Seorang pemabuk kedapatan kencing sambil berdiri di lapangan.

Puisi Ekspresionis: Baju Berpeluru

Di mana tempat paling baik untuk menyerang. Agar tidak kehabisan buah kemenangan. Memang jarang pulang. Kita perlu merencanakan. Tahu apa strategi. Tak sepercik pun peluru mengotori lantai. Menguasai diri. Pergi ke gerai seketika ramai. Ada peluru di dalam. Mengenai benda dan mengerang. Akan pecah jadi enam. Memantul mengenai tulang.

Puisi Filosofis: Pembeku

Membekukan seluruh perasaan. Menghimpun apa yang tersisa. Belum lagi soal kekalahan. Perlu mengada-ngada. Menyongsong dari pinggir hutan. Bantuan tak pernah lagi datang. Semata­-mata berkat keberuntungan. Kami yang akan berkembang. Sekelompok pintar dari berbagai negara. Jalan panjang menuju kematian. kejadian atau pertanda. Keberanian bisa tumbuh sangat besar, mempertegas kemauan.

Puisi Eksperimental: Teknologi

Bukan tak ada risiko. Yang tersimpan dalam botol jin. Dengan ilmu tekno. Orang yang sudah membikin mesin. Itu adalah kemunafikan semata. Menjeratku agar aku mau menjadi orang yang kuno. Mencari bola yang seharusnya ada. Di warung­-warung dan toko­-toko. Aku bilang tinggalkan aku sendiri. Tanda keseriusan keadaan. Terperangkap di dalam galeri. Lantang tentang keberhasilan.

Puisi Filosofis: Awan Berjalan

Sudah pada baris pertama aku tuliskan. Tawa renyah lagi. Perhatian yang diberikan. Oleh awan yang melintas di bawah kaki. Menambat kapal dengan bobot mati. Masak-masak sejam malam minggu. Sebuah legenda yang pantas kembali. Pikirkan tujuan utamamu.

Puisi Ekspresionis: Isolasi Sempurna

Secercah rasa bergumul di hati. Paradoks ketiga. Permasalahannya dekat dengan realitas keseharian kami. Aku hanya duduk di kursi berbentuk gurita. Bukti-bukti mulai menumpuk. Isolasi sempurna. Masing-masing bersenjatakan sepucuk. Setelah perang dunia kedua. Angin bertiup. Terbuka oleh sesuatu. Setelah sebuah kesalahan cukup. Mengenakan celana panjang flanel berlipit berwarna kelabu.

Puisi Naratif: Kode

Aku keluar minum kopi. Banyak kapal mulai terbakar. Aku bisa meloloskan diri. Sebuah urusan dan pekerjaan besar. Mungkin tak ada masa depan. Hubungan yang semrawut. Ini saat yang menentukan. Antara negara dan bajak laut. Antara Jakarta dan The Capital. Pada titik ini. Dirinya yang tidak menonjol. Bisa-bisanya selamat dari maut ini.

Puisi Ekspresionis: Pagi

Kami menangkap panca indera. Kehidupan khayali. Ekonomi yang semata-mata. Sungguh pagi yang melambai matahari. Sudah sampaikah kita? Dongeng yang ada sejak zaman modern sekarang. Tentang apa? Aku menghela nafas panjang. Cahaya di ruangan itu berubah. Dengarlah sebuah cerita. Begitu banyak yang dijarah. Denting harpa dari surga.

Puisi Eksperimental: Dewi

Aku menemukan harta karun. Dewi cantik tertawa lebar. Terhalusinasi hantu-hantu gurun. Dadaku sesak karena sangkar. Pedang iblis menembus kelam. Satu hilir semua hilir. Melewati cakrawala malam. Sungai-sungai darah mengalir. Dimanakah diriku berada? Semua jatuh layu di bawah tengkuk. Untuk menggali lebih dalam tentang sejarah dunia. Semuanya dibekuk.

Puisi Eksperimental: Kecanggihan

Sejauh ini cukup baik. Saya mendiskusikan gagasan. Sehingga mesin itu memanfaatkan yang terbaik. Kecanggihannya sedemikian. Perbedaan antara robot dan manusia. Seandainya manusia dapat bersabar. Mungkin bisa cangkir itu terisinya. Seluruhnya menjadikan pagar-pagar. Seluas mata. Orang yang tidak pernah mengatakan tidak saat dimintai sesuatu. Kuharapkan kami telah mencapai karimata. Mengambil sisa uang gajiku.