Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Kau, Aku, dan Telaga Warna

Alkisah, terdapat sebuah telaga berwarna di Pamulang. Telaga itu besar, cantik, menyejukkan. Karena aku selalu mengira-ngira lokasi, aku beranggapan bahwa telaga warna itu tidaklah nyata.   “Anakku, telaga warna itu nyata. Kakek sendiri pernah melihatnya, di suatu tempat di dunia ini. Tidaklah semua yang terjadi adalah kebetulan, pasti ada sebab-akibatnya anakku... Kakek harap, kamu jangan pernah sekali-kali mencari dimanakah telaga warna berada. Meskipun telaga warna memiliki banyak harta karun di dalamnya, naga laut dengan sisik emas dan mutiara di tubuhnya, ikan dengan intan permata di matanya, bahkan kerikil-kerikil kecil yang berada di dasarnya adalah batu permata atau emas yang terbentuk selama ribuan tahun.”   Kakekku berucap, aku mengernyitkan alis, tidak tahu.   Kalau telaga warna itu nyata, mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tentang telaga warna sebelumnya, Atau secarik kertas mengenai telaga warna pun belum pernah kutemui, Atau informasi sekecil...

Puisi Ekspresionis: Jam Pagi

Kami bertemu. Menjadi kekuatan besar di sebuah wilayah. Aku ingin bertemu adikku. Berkurang-kurangnya wajah. Sebuah pesan dari jalur aman. Siapa yang tahu. Sambil merendahkan. Jaga sikap dan perilaku. Wajah sangar memberitahu. Terdapat banyak mata yang berlatih. Masuk ke markas keluar tidak ada biru. Tak cukup rimbun lampu putih.

Puisi Ekspresionis: Mendengar

Seandainya aku menjadi hidup lagi. Menjaring manusia supaya tak sampai keluar sasaran. Jalan-jalan sunyi menjadi sepi. Sentuhan pada pertolongan. Pintu besar itu belum terbuka. Meringkuk di neraka sepanjang hari sambil bermimpi indah. Pertarungan pertama. Masih dikenakan tahanan rumah. Supaya dapat jatuh ke tangan. Berlari sepanjang dunia sembari berteriak. Menyingkirkan. Orang yang congkak.

Puisi Ekspresionis: Kembalinya Si Bulan

Melihat sekeliling dengan tercengang. Memeriksa jam tangan. Bersenang-senang. Ia menunjukkan. Selalu keras tapi tak pernah kejam. Hawa aneh berputar di kepala. Jika ia menghantam ombak. Ke bumi berupa bayang-bayang cahaya. Purnama pertama. Seketika menakjubkan. Tolong, jangan bicara. Biarkan bulan ini menjadi mematikan.

Puisi Ekspresionis: Aku Terjebak

Hutan angker tak lagi membuatnya gentar. Terhampar tebal di dasar hutan. Melihat ketegangan di sekitar. Semakin berat penebusan. Pedang itu merobek topi. Tanpa perlu bertanya. Ciri-ciri musuh sejati. Ucapan terakhirnya sebelum mereka memenggal kepala. Sangat banyak aksi. Kalau angka-angka ini akurat. Kemampuan untuk menghindarkan diri. Ketenangan yang tepat.

Puisi Ekspresionis: Hari Waktu

Karena dicekam perasaan ngeri. Aku melarikan diri ke segala penjuru. Harus menyaksikan semua ini. Dengan jantung yang berpacu. Tetapi apa yang disayangkan? Aku merasa sangat dikhianati. Hari demi hari penghukuman. Pergi kembali. Harimau tidak mengurangi kecepatan. Malam semakin larut. Dia mengenal makna mati dan kematian. Apa nyalimu ciut.

Puisi Politik: Sandiwara

Matamu boleh saja buta. Di wilayah yang lebih dekat. Dulu mereka memang berkuasa. Yang dilakukan sekarang hanya menggeliat. Lalu mengapa orang-orang merendahkan suara saat berbicara tentang penguasa. Hati-hati dikurung. Semut mengejek singa. Benar-benar makhluk dalam tempurung.

Puisi Cinta: Biliar Tiga Bola

Kain basah. Mengalami perasaan. Jadi kekuatan berubah. Mendukung tanpa membedakan. Bergerombol di atas rumah. Menekankan perbedaan ukuran. Terlanjur bersemu merah. Dibungkus dengan pemahaman. Biliar tiga bola. Perubahan besar. Mengalami keberadaan yang kaya. Aktif menyatakan di dunia sekitar.

Puisi Cinta: Pengumpat

Dimana pun. Aku mencintaimu. Kapan pun. Memerlukanmu. Menguasai tempat-tempat yang tinggi. Menuntut ilmu. Hari demi hari. Untuk mendapatkanmu. Loncat mendekap mulut. Muncul kembali. Secara perlahan surut. Hal tidak bisa dipahami.